Kurikulum Dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Islam

ARTIKEL
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

Tentang
Kurikulum Dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Islam

Oleh:
IHSANUL AMRI
404.606

Dosen Pembimbing:

M. ZALNUR, M.Ag

JURUSAN TADRIS BAHASA INGRIS
FAKULTAS TARBIYAH
IAIN IMAM BONJOL PADANG
2011
KURIKULUM DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

Kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan dalam suatu sistem pendidikan. Jadi kurikulum merupakan alat dalam pencapaian tujuan pendidikan dan sekaligus sebagai pediman dalam pelaksaan pembelajaran pada semua jenis dan tingkat pendidikan.
Hasan Langgulung mengungkapkan empat ciri-ciri utama dari kurikulum, yaitu:
1. Tujuan pendidikan yang ingin dicapai oleh kurikulum itu.
2. Pengetahuan (knowledge) ilmu-ilmu data, aktivitas-aktivitasnya dan pengalaman-pengalaman dari mana terbentuk kurikulum itu.
3. Metode dan cara-cara mengajar dan bimbingan yang diikuti murid-murid untuk mendorong mereka ke arah yang dikehendaki dan tujuan-tujuan yang dirancang.
4. Metode dan cara penilaian yang digunkan untuk mengukur dan menilai hasil proses pendidikan yang dirancang dalam kurikulum. )
Berangkat dari ke kempat hal yang menjadi aspek pokok kurikulum, maka jika dikaitkan dengan falsafah pendidikan yang dikembangkan oleh pendidikan tentu semua akan menyatu dan terpadu dengan ajaran Islam itu sendiri. Tujuan pendidikan Islam tentu semua akan menyatu dan terpadu dengan ajaran Islam itu sendiri.
Pendidikan yang merupakan suatu proses pemanusiaan manusia pada hakekatnya adalah sebuah upaya untuk meningkatkan kualitas manusia. Oleh karena itu, setiap proses pendidikan akan berusaha mengembangkan seluas-luasnya potensi individu sebagai sebuah elemen penting untuk mengembangkan dan mengubah masyarakat (agent of change). Dalam upaya itu, setiap proses pendidikan membutuhkan seperangkat sistem yang mampu mentransformasi pengetahuan, pemahaman, dan perilaku peserta didik. Dan salah satu komponen operasional pendidikan sebagai sistem adalah kurikulum, dimana ketika kata itu dikatakan, maka akan mengandung pengertian bahwa materi yang diajarkan atau dididikkan telah tersusun secara sistematik dengan tujuan yang hendak dicapai.
Dari beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas lulusan suatu lembaga pendidikan, barangkali kurikulumlah yang bisa dianggap menjadi prioritas utama untuk diperhatikan. keberadaan kurikulum tidak saja terbatas pada materi yang akan diberikan di dalam ruang kelas, melainkan juga meliputi apa saja yang sengaja diadakan atau ditiadakan untuk dialami peserta didik. Oleh karena itu, posisi kurikulum menjadi mata rantai yang urgen dan tidak dapat begitu saja dinafikan dalam konteks peningkatan kualitas sebuah lembaga pendidikan.

KURIKULUM

Kurikulum berasal dari bahasa yunani, yaitu curir yang artinya pelari dan curare yang artinya tempat berlari. Jadi istilah kurikulum berasal dari dunia olah raga pada zaman Romawi Kuno di Yunani, yang mengandung pengertian suatu jarak ayng harus ditempuh oleh pelari dari garis start sampai garis finish. )
Dalam bahasa arab, kata kurikulum diungkapkan dengan Manhaj yang berarti jalan yang terang yang dilalui manusia pada berbagai bidang kehidupan. Sedangkan kurikulum pendidikan (Manhaj Al-Dirasah) dalam Qamus Tarbiyah adalah seperangkat perencanaan dan media yang dijadikan acuan oleh lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan. )
Khoiron Rosyadi, kurikulum diartikan sebagai sesuatu yang direncanakan untuk dipelajari oleh anak didik. )
Pengertian seperti tersebut di atas merupakan pengertian kurikulum yang sempit, dimana kurikulum diartikan secara terbatas karena masih belum mencakup aktivitas peserta didik dalam proses kependidikan. Hal inilah yang selama beberapa dekade ini telah mengebiri kurikulum pendidikan kita serta mengarahkannya pada nasionalisme yang sempit dan uniformitas (keseragaman) baik dalam berpikir dan bertindak, yang secara tidak langsung memasung kreatifitas guru dan memperendah proses perkembangan imajinasi, keberanian dan daya berpikir peserta didik. Konsep sentralisasi tersebut merupakan bagian dari kelemahan struktur dan mekanisme praktek pendidikan kita yang selama ini terlalu menekankan pada proses. Sehingga telah melahirkan suatu kecenderungan proses pengajaran oleh guru (teacher centre) dibandingkan dengan yang seharusnya sebagai proses pembelajaran oleh peserta didik (student centre). Guru diharuskan melaksanakan tugas dengan metode sebagaimana petunjuk dari atas, terlepas setuju atau tidak setuju, suka atau tidak suka dan cocok tidaknya metode tersebut dengan materi yang disampaikan. Dengan kata lain pendidikan seharusnya lebih menekankan pada aspek pembelajaran (learning) dan bukan pengajaran (teaching).
Pandangan yang menganggap kurikulum sebagai sejumlah mata pelajaran merupakan pandangan yang dianggap tradisional, walaupun pada kenyataan yang kita lihat sekarang ini hal itu masih banyak dianut oleh orang.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat membawa dampak terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk terjadinya pergeseran fungsi sekolah sebgai suatu institusi pendidikan. Seiring dengan tumbuhnya berbagai macam kebutuhan dan tuntutan kehidupan, beban sekolah semakin berat dan komplek. Sekolah tidak hanya dituntut untuk membekali berbagai macam ilmu pengetahuan yang sangat cepat berkembang, akan tetapi juga dituntut untuk dapat mengembangkan minat dan bakat, membentuk moral dan kepribadian, bahkan dituntut agar anak didik dapat menguasai berbagai macam keterampilan yang dibutuhkan untuk memenuhi dunia pekerjaan.
Tuntutan-tuntutan baru yang dibebankan masyarakat terhadap sekolah tersebut, mengakibatkan terjadinya pergeseran makna dari kurikulum tersebut. Kurikulum tidak lagi hanya dianggap sebagai satuan mata pelajaran, akan tetapi juga di anggap sebagai pengalaman belajar siswa. Kurikulum dimaknai sebagai seluruh kegiatan yang dilakukan siswa baik di dalam maupun diluar sekolah asalkan kegiatan tersebut masih dalam tangung jawab sekolah. Maksudnya di sini adalah kegiatan tersebut bukan hanya terbatas pada kegiatan intra maupun ekstra kurikuler, melainkan apapun kegiatan yang dilakukan oleh siswa baik itu di dalam sekolah ataupun diluar sekolah (diluar jam pelajaran sekolah) asalkankegiatan tersebut masih dalam tanggung jawab dan masih dalam bimbingan guru. Misalkan kegitan anak dalam mengerjakan tugas rumah, pengerjaan tugas kelompok, belajar kelompok, mengadakan observasi, wawancara dan sebagainya, itu merupakan bagian dari kurikulum karena kegiatan-kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan seefisien mungkin sesuai dengan yang telah diporgramkan sekolah.
Banyak tokoh yang menganggap kurikulum itu adalah pengalaman, salah satunya adalah Romine (1945) yang mengatakan: “Curriculum is interpreted to mean all of the organizer courses, activities, and experience wich pupils have under directionof the school, wether in the classroom or not”.
Pergeseran makna kurikulum dari sejumlah mata pelajaran kepada pengalaman, selain disebabkan meluasnya fungsi dan tanggung jawab sekolah, juga dipengaruhi oleh penemuan-penemuan baru khusunya penemuan dalam bidang psikologi belajar. Panadangan baru dalam psikologi belajar menganggap bahwa bwlajar itu bukan hanya mengumpukan sejumlah pengetahuan, akan tetapi proses perubahan perilaku siswa. Dengan demikian, siswa telah belajar manakala telah memiliki perubahan perilaku. Peribahan perilaku itu akan terjadi manakala siswa telah memiliki pengalaman belajar. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa pengalaman serta proses belajar itu lebih penting daripada hanya menumpuk sejumlah pengetahuan. Kalaulah kurikulum dianggap sebagai pengalaman atau seluruh aktivitas yang dilakukan siswa selama berlangsungnya proses pembelajaran, maka untk memahami kurikulm sekolah tidak cukup hanya dengan melihat dokumen kurikulum sebagai suatu program tertulis, akan tetapi juga bagaiman proses pembelajaran itu berlangsung, baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah. Hal ini harus betul-betul dipahami sebab kaitannya sangat erat dengan evaluasi keberhasilan pelaksanaan kurikulum, yaitunya bahwa pencapaian target pelaksanaan suatu kurikulum tidak hanya diukur dari kemampuan siswa dalam menguasai seluruh isi atau materi pelajaran, akan tetapi juga harus dilihat dari proses kegiatan siswa sebagai pengalaman belajar.
Akan tetapi seiring perjalanan waktu, konsep tersebut mulai mengundang kritikan dan ketidaksepahaman. Hal itu dikarenakan munculnya pertanyaan tentang bagaimana menentukan dan mengukur pengalaman belajar. Tentulah hal itu bukanlah suatu pekerjaan yang sederhana. Segala bentuk perilaku siswa merupakan Hasil dari pengalamannya yang tidak mungkin dapat dikontrol guru. Oleh karena itu, kurikulum sebagai suatu pengalaman dianggap beberapa ahli sebagai konsep yang luas. Karena itu makna kurikulum dianggap menjadi kabur serta tidak fungsional, hingga muncullah konsep yang menganggap kurikulum sebagai suatu program atau rencana untuk belajar.
Hal ini dapat di lihat dari rumusan para ahli seperti Zakiyah Darajat yang memandang kurikulum sebagai suatu program yang direncanakan dalam bidang pendidikan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan-tujuan tertentu. ) Dr addamardasyi Sarhan dan Dr. Munir Kamil yang disitir oleh Al-Syaibani, bahwa kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olahraga dan kesenian yang disediakan oleh sekolah bagi murid-muridnya di dalam maupun di luar sekolah dengan maksud menolong untuk berkembang menyeluruh dalam segala segi dan merubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan-tujuan pendidikan. )
Kurikulum sebagai suatu rencana tampaknya juga sejalan dengan rumusan kurikulum menurut undang-undang pendidikan kita yang menjadi acuan dalam penyelenggaraan sistem pendidikan. Menurut UU No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dikatakan bahwa kurikulum seperangkat rencana dan peratutan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. )
Perlu kita pahami bahwa sekolah didirikan untuk membimbing peserta didik agar berkembang sesuai dengna tujuan yang diharapkan. Ini berarti titik sentral dari kurikulum adalah anak didik itu sendiri.
Dengan demikian, pengertian kurikulum dalam pandangan modern merupakan program pendidikan yang disediakan oleh sekolah yang tidak hanya sebatas bidang studi dan kegiatan belajar saja. Akan tetapi meliputi segala sesuatu yang dapat mempengaruhi perkembangan dan pembentukan pribadi siswa sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan sehingga dapat meningkatkan mutu kehidupannya yang pelaksaannya bukan hanya disekolah, tapi juga diluar sekolah.
Jika diaplikasikan dalam kurikulum pendidikan Islam, maka kurikulum berfungsi sebagai pedoman yang digunakan oleh pendidik untuk membimbing peserta didiknya ke arah tujuan tertinggi pendidikan Islam melalui akumulasi sejumlah pengetahuan, keterampilan dan sikap atau perilaku. Dalam hal ini proses pendidikan Islam bukanlah suatu proses yang dilakukan secara sembarangan, tetapi hendaknya mengacu kepada konseptualisasi manusia paripurna yang strateginya telah tersusun secara sistematis dalam kurikulum pendidikan Islam.
Jadi, segala usaha sekolah untuk mempengaruhi anak itu belajar, apakah dalam ruangan kelas, di halaman sekolah, atau di luar sekolah, dapat dikategorikan sebagai kurikulum. Dengan demikian, kurikulum meliputi segala pengalaman yang disajikan oleh sekolah agar anak mencapai tujuan yang diinginkan. Hal demikian dikarenakan suatu tujuan tidak akan tercapai dengan suatu pengalaman saja, akan tetapi melalui berbagai pengalaman dalam bermacam-macam situasi, di dalam maupun di luar sekolah.
Suatu kurikulum pendidikan, termasuk kurikulum pendidikan Islam, hendaknya mengandung beberapa unsure utama seperti tujuan, isi mata pelajaran, metode mengajar, dan metode panilaian. Semua harus tersusun dan mengacu pada suatu sumber kekuatan yang menjadi landasan dalam pembentukannya.
Muhammad al-Thoumy Al-Syaibany, mengemukakan bahwa asas-asas umum yang menjadi landasan pembentukan kurikulum dalam pendidikan Islam adalah asas agama, asas falsafah, asas psikologi, asas sosial. ) semua asas tersebut harus dijadikan landasan dalam pembentukan kurikulum pendidikan Islam. Satiap asas tersebut tidak berdiri sendiri, tapi merupakan satu kesatuan yang utuh sehingga dapat membentuk kurikulum pendidikan Islam yang terpadu, yaitu kurikulum yang relevan dengan kebutuhan Perkembangan anak didik dalam undue ketauhitan, keagamaan pengembangan potensinya sebagai khalifah, pengembangan dalam kehidupan social.

KEHARUSAN PEMBARUAN DAN PENGEMBANGAN

Sebagai salah satu komponen yang memiliki peranan sangat penting dalam pendidikan, maka pentingnya fungsi peranan kurikulum pada setiap pembaharuan dan pengembangan kurikulum juga harus didasarkan pada fondasi yang kuat. Layak membangun sebuah gedung, maka diperlukan fondasi yang kuat, karena semakin kokoh fondasi gedung tersebut, maka semakin kokoh pula gedung tersebut. Kesalahan dalam menentukan dan menyusun fondasi kurikulum berarti kesalahan dalam memtukan kebijakan dan implementasi pendidikan.
Pada hakikatnya, pengembangan kurikulum adalah proses penyusunan rencana tentang isi dan bahan pelajaran yang harus dipelajari serta serta bagaimana cara mempelajari. Namun demikian, persoalan mengembangkan isi dan bahan pelajaran serta bagaimana cara siswa belajar bukanlah suatu proses yang sederhana begitu saja. Hal ini disebabkan dalam menentukan isi atau muatan kurikulum harus berangkat dari visi, misi, serta tujuan yang ingin dicapai. Dalam mennukan tujuan, erta sekali kaitannya dengan persoalan sistim nilai dan kebuhan masyarakat. Persoalan inilah yang kemudian membawa kita pada persoalan menentukan hal-hal yang mendasar dalam proses pengembangan kurikulum.
Seller dan miller (1985) mengemukakan bahwa proses pengembangan kurikulum adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan secara terus menerus. Seller memandang juga memandang bahwa pengembangan kurikulum harus dimulai dari menentukan orientasi kurikulum, yakni kebijakan-kebijakan umum, misalnya arah dan tujuan pendidikan, pandangan tentang hakikat belajar dan hakikat anak didik, pandangan tentang keberhasilan implemenasi kurikulum. )
Seller juga mengungkapkan enam aspek orientasi pengembangan kurikulum, yaitu:
1. Tujuan pendidikan menyangkut kea rah kegiatan pendidikan. Artinya hendaknya dibawa kemana siswa yang kita didik.
2. Pandangan tentang anak, apakah anak dianggap sebagai organism yang aktif atau pasif
3. Pandangan tentang proses pembelajaran, apakah proses pembelajaran itu dianggap sebagai proses transformasi ilmu pengetahuan atau mengubah perilaku anak.
4. Pandangan tentang ligkungan, apakah lingkungan belajar harus dikelola dengan secara formal datau secara bebas yang dapat memungkinkan anak bebas belajar.
5. Konsepsi tentang peranan guru, apakah guru harus berperan sebagai instruktur yang bersifat otoriter atau guru dianggap sebagai fasilitator.
6. Evaluasi belajar, apakah mengukur keberhasilan harus ditentukan dengan tes atau nontes. )

Ada tiga landasan dalam pengembangan kurikulum yaitunya: )

1. Landasan Filsafat
Dalam pengembangan kurikulum muncul pertanyaan-pertanyaan pokok seperti: hendak dibawa kemana siswa yang dididik itu? Msyarakatyang bagaimana harus diciptakan melaui ikthiar pendidikan? Apakah hakikat pengetahuan yang harus dipelajari dan dikaji siswa? Norma-norma atau sistim nilai yang bagaimana yang harus diwariskan kepada anak didik sebagai generasi penerus? Dan bagaiman seharusnya proses pendidikan itu berlangsung?
Sebagai landasan fundamental, filasafat memegang peranan penting dalam proses pengembangan kurikulum. Ada empat fungsi filasat dalam mengembangkan kurikulum yaitu:
1. Filsafat dapa menentukan arah dan Tujuan pendidikan. Dengan filsafat segaai pandangan hidup, atau value sistem, maka dapat ditentukan mau dibawa kemana siswa yang kita didik.
2. Filsafat dapat menentukan materi dan bahan ajaran yang diberkan sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
3. Filsafat dapat menentukan strategi atau cara penyampaian tujuan. Sebagai sistem nilai, filsafat dapat dijadikan pedoman dalammerancang kegiatan pembelajaran.
4. Melaui filsafat dapat ditentukan baaiman menentukan tolak ukur keberhasilan proses pendidikan. )
Dari penjelasan tentang fungsi-fungsi filasafat dalam pengembangan kurikulum maka semua pertanyaan pokok yang timbul dalam pengembangan kurikulum dapat terjawabkan. Filsafat merupakan landasan yang paling utama dalam pengembangan kurikulum. Filsafat sangat penting, khususnya dalam pengambilan keputusan pada setiap aspek kurikulum, dimana setiap keputusan harus ada dasarnya (landasan filosofisnya). Para pengembang kurikulum harus mempunyai filsafat yang jelas tentang apa yang mereka junjung tinggi. Filsafat yang kabur akan menimbulkan kurikulum yang tidak tentu arah. Kurikulum sebagai rancangan dari pendidikan, mempunyai kedudukan yang cukup sentral dalam keseluruhan kegiatan pendidikan karena kurikulum menentukan proses pelaksanaan dan hasil daripada pendidikan. Mengingat begitu pentingnya peranan kurikulum dalam pendidikan dan perkembangan kehidupan manusia, maka pengembangan kurikulum tidak dapat dirancang sembarangan.
Kurikulum sebagai suatu program dan alat untuk mencapai tujuan pendidikan, mempunyai hubungan dengan proses perubahan perilaku peserta didik. Dalam hal ini kurikulum merupakan suatu program pendidikan yang berfungsi sebagai alat untuk mengubah perilaku peserta didik (peserta didik) ke arah yang diharapkan oleh pendidikan. Oleh sebab itu, proses pengembangan kurikulum perlu memperhatikan asumsi-asumsi yang bersumber dalam bidang kajian psikologi. Pengembangan kurikulum membutuhkan landasan-landasan yang kuat, yang didasarkan atas hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam.
2. Landasan Psikologis
Kurikulum merupakan pedoman bagi guru dalam anak didik sesuai dengan yang diharapakn dalam tujuan pendidikan. Secara psikologis, anak didik memiliki keunikan dan perbedaan-perbedaan baik perbedaan bakat, minat, maupun potensi yang dimilikinya sesuai dengan tahapa perkembangannya. Dengan alasan itulah kurikulum harus memperhatikan kondisi psikologis Perkembangan dan psikologi belajar anak.
Pemahaman tentang anak bagi seorang pengembang kurikulum sangatlah penting. Kesalahna persepsi dan kedangkalan pemahaman tentang anak dapat menyebabkan kesalahan arah dan kesalahan praktik pendidikan.
Jadi, Landasan psikologis pengembangan kurikulum menuntut agar dalam pengembangan kurikulum harus memperhatikan dan mempertimbangkan aspek peserta didik dalam pelaksanaan kurikulum sehingga nantinya pada saat pelaksanaan kurikulum apa yang menjadi tujuan kurikulum akan tercapai secara optimal. Sehingga unsur psikologis dalam pengembangan kurikulum mutlak perlu diperhatikan.

3. Landasan Sosiologis Teknologis
Sekolah berfungsi mempersiapkan anak didiknya agar dapat berperan aktif dalam masyarakat. Oleh karena itu, kurikulum sebagai alat dan pedoman dalam proses pendidikan di sekolah harus relevan dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Dengan demikian dalam konteks ini sekolah tidak hanya berfungsi untuk mewariskan kebudayaan dan nilai-nilai suatu masyarakat, akan tetapi sekolah juga berfungsi untuk mempersiapkan anak didik dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, kurikulum bukan hanya berisi berbagai nilai suatu masyarakat akan tetapi bermuatan segala sesuatu leh karena itu, kurikulum bukan hanya berisi berbagai nilai suatu masyarakat akan tetapi bermuatan segala sesuatu yang dibutuhkan masyarakat.

Kenapa kurikulum harus berubah ? demikian pertanyaan yang kerapkali dilontarkan orang, ketika menanggapi terjadinya perubahan kurikulum yang terjadi di Indonesia. Jawabannya pun sangat beragam, bergantung pada persepsi dan tingkat pemahamannya masing-masing. Sepanjang sejarahnya, di Indonesia telah mengalami beberapa kali perubahan hingga ada kesan di masyarakat bahwa “ganti menteri, ganti kurikulum”.Perubahan kurikulum pada dasarnya memang dibutuhkan manakala kurikulum yang berlaku (current curriculum) dipandang sudah tidak efektif dan tidak relevan lagi dengan tuntutan dan perkembangan jaman dan setiap perubahan akan mengandung resiko dan konsekuensi tertentu.
Perubahan kurikulum yang berskala nasional memang kerapkali mengundang sejumlah pertanyaan dan perdebatan, mengingat dampaknya yang sangat luas serta mengandung resiko yang sangat besar, apalagi kalau perubahan itu dilakukan secara tiba-tiba dan dalam waktu yang singkat serta tanpa dasar yang jelas.
Namun dalam konteks KTSP, perubahan kurikulum pada tingkat sekolah justru perlu dilakukan secara terus menerus. Dalam hal ini, perubahan tentunya tidak harus dilakukan secara radikal dan menyeluruh, namun bergantung kepada data hasil evaluasi. Mungkin cukup hanya satu atau beberapa aspek saja yang perlu dirubah.
Kita maklumi bahwa semenjak pertama kali diberlakukan KTSP yang terkesan mendadak, kegiatan pengembangan kurikulum di sekolah sangat mungkin diawali dengan keterpaksaan demi mematuhi ketentuan yang berlaku, sehingga model yang dikembangkan mungkin saja belum sepenuhnya menggambarkan kebutuhan dan kondisi sebenarnya di sekolah. Oleh karena itu, untuk memperoleh model kurikulum yang sesuai, tentunya dibutuhkan perbaikan-perbaikan yang secara terus-menerus berdasarkan data evaluasi, hingga pada akhirnya dapat ditemukan model kurikulum yang lebih sesuai dengan karakteristik dan kondisi nyata sekolah.
Justru akan menjadi sesuatu yang aneh dan janggal, kalau saja suatu sekolah semenjak awal memberlakukan KTSP hingga ke depannya tidak pernah melakukan perubahan-perubahan apapun. Hampir bisa dipastikan sekolah yang demikian, sama sekali tidak menunjukkan perkembangan.
Oleh karena itu, dalam rangka menemukan model kurikulum yang sesuai di sekolah, sudah seharusnya di sekolah dibentuk tim pengembang kurikulum tingkat sekolah yang bertugas untuk memanage kurikulum di sekolah. Memang saat ini, di sekolah-sekolah sudah ditunjuk petugas khusus yang menangani kurikulum yang biasanya dipegang oleh wakasek kurikulum. Namun pada umumnya mereka cenderung disibukkan dengan tugas -tugas yang hanya bersifat rutin dan teknis saja, seperti membuat jadwal pelajaran, melaksanakan ulangan umum atau kegiatan yang bersifat rutin lainnya. Usaha untuk mendesain, mengimplementasikan, dan mengevaluasi serta mengembangan kurikulum yang lebih inovatif tampaknya kurang begitu diperhatikan. Dengan adanya Tim Pengembang Kurikulum di sekolah maka kegiatan manajemen kurikulum mungkin akan jauh lebih terarah, sehingga pada gilirannya pendidikan di sekolah pun akan jauh lebih efektif dan efisien.

FILOSOFI
Pada hakikatnya kurikulum berfungsi untuk mempersiapkan anggota masyarakat yang dapat mempertahankan, mengembangkan, dan dapat hidup dalam sistem nilai masyarakatnya sendiri. Oleh sebaba itu dalam sistim pengembangannya harus mencerminkan sistem nilai masyarakat. Filsafat sebagai sistem nilai harus dijadikan landasan dalam menentukan tujuan pendidikan. Artinya, pandangan hidup atau tujuan yang dianggap baik oleh suatu masyarakat akan tercermin dalam tujuan pendidikan yang harus dicapai.
Di Indonesia, sistim nilai yang berlaku adalah pancasila. Oleh sebab itu untuk membentuk manusia yang sesuai dengan pancasila merupakan Tujuan dan arah dari segala ikhtiar berbagai level dan jenis pendidikan. Dengan demikian isi kurikulum yang disusun harus memuat dan mencerminkan nilai-nilai pancasila. Nilai-nilai atau norma yang diakui sebagai pandangan hidup seuatu bangsa, seperti pancasila bagi bangsa Indonesia, bukan hanya harus menjiwai isi kurikulum yang berlaku, akan tetepai harus mewarnai filsafat dan Tujuan lembaga sekolah dan merembes ke dalam praktik pendidikan oleh guru dalam kelas. Dalam melaksanakan kegiatan serta pengambilan berbagai keputusan guru haruslah mencerminkan nilai-nilai itu. Itulah sebabnya, walaupun setiap guru dapat saja memiliki norma atau sistem nilai yang dianggap baik, akan tetapi nilai-nilai itu jangan sampai bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.
Menurut Bloom (1865) Tujuan pendidikan dapat digolongkan kepada tiga klasifikasi atau tiga domain, yaitu domain kognitif, domain afektif, dan domain psikomotor. ) Domain kognitif berhubungan dengan pengembangan intelektual dan kecerdasan. Afektif berhubungan dengan pengembangan sikap dan psikomotor berhubungan dengan keterampilan. Setia warga negara atau masyarakat, akan memaknai ketiga bidang itu sesuai dengan sistem nilai yang berlaku. Jadi, Indonesia sebagai Negara ynag memliki sistem nilai sendiri yaitunya pancasila, maka ketiga bidang itu mesi dibingkai oleh kebenaran nilai-nilai pancasila. Kecerdasan yang harus dikembangkan, sikap yang harus ditanamakn, dan keterampilan yangharus dikuasai oleh setiap anak didik kita tidak terlepas dari nilai¬-nilai pancasila. Dengan demikian sebagai sistim nilai, pancsila menjadi bingkai dari Tujuan dan pelaksanaan pendidikan.
Pendidikan Islam secara fungsional adalah upaya manusia muslim dalam merekayasa pembentukan al-insan al-kamil melaui penciptaan situasi interaksi edukatif yang kondusif. Dalam posisinya yang demikian, pendidikan Islam adalah model rekayasa individual dan social yangpaling efektif untuk menyiapkn dan mencipatakan bentuk masyarakat ideal ke masa depan.
Sejalan dengan konsep perekayasaan masa depan ummat, maka pendidikan Islam harus memiliki seperangkat isi atau bahan yang akan ditransformasi kepada peserta didik agar menjadi milik dan kepribadiannya sesuai dengan idealitas Islam. Untuk itu perlu dirancang suatu bentuk kurikulum pendidikan Islam yang sepenuhnya mengacu pada nilai-nilai asasi ajaran Islam. Dalam kaitan inilah diharapkan filsafat pendidikan Islam mampu memberikan arah terhadap pembetukan pendidikan yang Islami.
Proses pendidikan Islam bukanlah proses yang dilakukan secaa serampangan, karena landasan yangdigunakan pendidik untuk membimbing peserta didiknya harus melalui akumulasi sejumlah pengetahuan, keterampilan, sikap dan mental. Ini berarti proses pendidikan Islam bukan subuah proses sederhana saja, tapi mengacu pada konseptualisasi manusia paripurna (baik secara kahlifah maupun ‘Abd) melaui transformasi sejumlah pengetahuan, keterampilan dan siap mental yang harus tersusun dalam kurikulum pendidikan Islam. Disenilah peran filsafat pendidikan Islam dam memberikanpandangan filosofis tentanghakikat pengetahuan, keterampilan dan sikap mental yang dapat dijadikan pedoman dalam pembentukan mausian paripurna (al-insan al-kamil). )
DALIL

1. Surat Al-Alaq Ayat 1-5

                        
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Kalau ditinjau dari segi kurikulum sebenarnya firman Allah SWT diatas merupakan bahan pokok pendidikan yang mencakup seluruh ilmu pengetahuan. Yang dibutuhkan manusia.

2. Surat Luqman Ayat 13

               
13. Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

3. Surat Luqman Ayat 14

     •            
14. Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.