Dampak Negatif Penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi

Selain memberikan keuntungan, ternyata peralatan teknologi informasi dan komunikasi juga memberikan dampak negatif bagi penggunanya. Dampak negatif tersebut muncul sebagai akibat dari penggunaan yang salah atau tidak bertanggung jawab dari yang menggunakan.
a. Berbagai Dampak Negatif dari Penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi
Berbagai dampak negatif dari penggunaan teknologi informasi dan komunikasi antara lain: pelanggaran hak cipta, berbagai jenis kejahatan yang menggunakan fasilitas internet, penyebaran virus komputer, berbagai jenis tindak kriminal (pornografi, perjudian, penipuan, dan tayangan kekerasan).
b. Penjelasan Dampak Negatif dari Penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi
1. Pelanggaran Hak Cipta
Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) adalah hak eksklusif yang diberikan suatu peraturan kepada seseorang atau sekelompok orang atas karya ciptanya. HaKI mencakup dua katagori yaitu Hak Cipta dan Hak Kekayaan Indutri. Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi pencipta maupun penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya maupun memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan menurut peraturan undang-undang yang berlaku. Sedangkan Hak Kekayaan Industri meliputi paten, merek, desain industri, desain tata letak sirkuit terpadu, rahasia dagang dan varietas tanaman. Undang-undang yang mengatur Hak Cipta adalah Undang-undang No. 19 tahun 2002 yang menjelaskan beberapa bentuk ciptaan yang dilindungi terdiri dari berbagai bidang seperti ilmu pengetahuan, seni dan sastra. Di dalam peraturan hak cipta ada beberapa hak yang didapatkan oleh seseorang atau beberapa orang yang secara hukum telah menjadi pemegang hak cipta, yaitu hak ekslusif, hak ekonomi dan hak moral. Hukuman atau sanksi yang diberikan bagi pelanggar Hak Cipta, adalah tuntutan hukuman pidana ataupun gugatan perdata.
2. Kejahatan di Internet
Ciri-ciri kejahatan di internet:
· Kejahatan tidak mengenal batas negara dan teritorial, kapan pun dan di manapun bisa muncul.
· Perbuatan yang dilakukan tersebut bersifat ilegal atau tidak etis.
· Menggunakan peralatan yang berhubungan dengan komputer dan internet.
· Kerugian yang diakibatkan jauh lebih besar daripada kejahatan biasa.
· Pelaku kejahatan adalah orang yang mengerti dan memahami dengan baik tentang internet, komputer dan berbagai aplikasinya.
Jenis-jenis kejahatan di internet:
· Unauthorized Access
· Cyber Sabotage and Extortion
· Cyber Espionage
· Data Forgery
· Illegal Contents
· Infrigements of Privacy
· Phising
· Spamming
· Offense Againts Intellectual Property
· Carding
3. Penyebaran Virus Komputer
Virus komputer adalah sebuah program yang berukuran relatif kecil dan bersifat sebagai parasit yang mampu hidup dan menggandakan dirinya menyerupai file maupun folder dan sangat mengganggu pengguna komputer yang terinfeksi. Virus komputer meyebar melalui berbagai media termasuk media internet dan penyimpanan (file storage) seperti CD-ROM, Disket, Flash Disk, Hard Disk, dan Memory Card.
4. Pornografi, perjudian, penipuan, tayangan kekerasan
Berbagai peralatan TIK seperti TV, internet, banyak menayangkan dan menampilakan tindakan-tindakan pornografi, perjudian, penipuan, dan tayangan kekerasan yang dengan cepat ditiru para penikmatnya.
c. Pencegahan Dampak Negatif TIK
1. Mencegah penyebaran virus komputer
· Menginstal anti virus
· Selalu meng-Update database Program anti virus secara teratur
· Berhati-hati dalam menjalankan file baru seperti file yang baru diambil dari internet atau file attachment sebuah email
· Kenali gejala-gejala masuknya virus seperti komputer jadi lambat, sering crash, dan tiba-tiba restart sendiri
· Selalu membuat backup terhadap file-file yang penting agar saat komputer terserang virus, maka kita masih punya data yang aslinya
2. Secara umum dampak negatif TIK dapat dicegah dengan cara sebagai berikut.
· Perlunya penegakkan hukum yang berlaku dengan dibentuknya polisi internet yang bertugas untuk menentukan standar operasi pengendalian dan penerapan teknologi informasi.
· Menghindari pemakaian telepon seluler yang berfitur canggih oleh anak-anak dibawah umur dan lebih mengawasi penggunaan telepon seluler.
· Perbanyak membaca buku-buku yang bersifat edukatif.
· Perbanyak membaca buku-buku yang menambah keimanan (religi).
· Perbanyak aplikasi komputer yang bersifat mendidik.
· Harus bisa mengatur waktu antara berada di depan komputer/internet atau bermain games dengan porsi belajar dan istirahat.
· Gunakan waktu seefektif dan seefisien mungkin.
· Perlunya kewaspadaan terhadap tayangan televisi yaitu dengan:
Ø Mewaspadai muatan pornografi, kekerasan, dan tayangan yang mengandung
Ø mistis dan kekerasan.
Ø Memperhatikan batasan umur peninton pada film yang sedang ditayangkan.
Ø Mengaktifkan penggunaan fasilitas Parental Lock pada TV kabel dan Satelit.
Ø Menghindari penempatan TV pribadi di dalam kamar.
· Perlunya kewaspadaan terhadap penggunaan komputer dan internet, meliputi:
Ø Mewaspadai muatan pornografi digital baik online maupun offline.
Ø Mewaspadai kekerasan pada permainan / games komputer.
Ø Cek history browser untuk melihat situs apa saja yang sudah dilihat oleh anak.
Ø Menggunakan program pemblokir situs dan konten dewasa seperti Program filtering dan parental control.
Ø Hindari penempatan komputer didalam kamar, letakkan komputer pada daerah yang mudah diawasi.
Hindari fasilitas internet jika komputer harus terpaksa diletakkan di kamar anak.

Advertisements

Wise Word about Love

Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu. Hanya untuk menemukan bahawa pada akhirnya menjadi tidak berarti dan kamu harus membiarkannya pergi.  Kemaafan mungkin amat berat jika kita berikan kepada orang yang pernah melukai hati kita. Tetapi hanya dengan memberi kemaafan sahajalah kita dapat mengubah hati kita yang terluka.  Dalam kerendahan hati ada ketinggian budi. Dalam kemiskinan harta ada kekayaan jiwa. Dalam kesempitan hidup ada kekuasaan ilmu.  Kita tidak dapat meneruskan hidup dengan baik jika tidak dapat melupakan kegagalan dan sakit hati di masa lalu.  Cinta yang sebenarnya adalah ketika kamu menitikan air mata dan masih peduli terhadapnya, dan ketika dia tidak memperdulikanmu dan kamu masih menunggunya dengan setia.  Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah kesesuaian jiwa dan jika itu tak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad.  Cinta sejati takkan pernah meminta apapun, ia hanya tahu arti memberi dengan ketulusannya. Ia takkan pernah minta dirangkul karena cintanya akan selalu merangkul jiwanya.  Cinta tak memberikan apa-apa kecuali dirinya sendiri dan tiada mengambil apa-apa kecuali dari dirinya sendiri. Cinta tiada memiliki dan tiada ingin dimiliki karena cinta telah cukup bagi cinta.  Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba. Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup. Jangan sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya.

Psycholinguistic

TOPIC I

AN INTRODUCTION TO PSYCHOLINGUISTICS:

WHAT DO LANGUAGE USERS NOW?

  1. A.     The domain of Psycholinguistics Inquiry

Linguistics is the discipline that describes the structure of language, including its grammar, sound system and vocabulary. Psycholinguistics is concerned with discovering the psychological process by which human acquire and use language. Psycholinguistics is concerned with the acquisition, perception, and production of language. Psycholinguistics addressed three major concerns:

  • Comprehension : how people understand spoken and written language.
  • Speech production : how people product language.
  • Acquisition : how people learning language. Focus on how children acquire a first language ( developed psycholinguistics) 
  1. B.     Language

Language is the form of communication used by human, according to Ronald Wardhaugh state that language is a system of arbitrary vocal symbols used for human communication. Human language is characterized by its hierarchical structure. This means that message is divisible into smaller units of analysis.

  1. C.    What Speakers And Listeners Know: A Brief Survey of Linguistics.

Level of linguistics Analysis:

  1. The sounds of the message must be isolated and recognized.
  2. The world must be identified and associated with their meaning.
  3. The grammatical structure of the message must be analyzed sufficiently to determine the roles played by each word.
  4. The result interpretation on the message must be evaluated in light of past experience and the current of context.

Linguistics related areas :

  1. Phonetics and phonology are concerned with the study of speech sound.
  2. Morphology is the study of word structures, especially the relationship between related word ( such as dog and dogs) and the information of word based on rules ( such as plural information )
  3. Semantic deals with the meaning of words and sentences. Where syntax is concerned with the formal structure of sentence, semantics deals with the actual meaning of sentences.
  4. Pragmatics is concerned with the role of context in the interpretations of meaning.
    1. D.    Language Diversity And language Universal.

Universal grammar is a system of principles, condition and rules that are elements or properties of all human language.

A psycholinguistics may be based on cognitive and perceptual factors, as well as linguistic:

  1. Oral and signed language. Language is signed or spoken. Oral language are numerous, but the manage signed languages in the world all divers crucially in their phonology.
  2. Written language. Very widely in their characteristics, but some broad categories of writing system can be described. The minimal unit or building block of any written system is the grapheme.
    1. E.     The Evolution Of Psycholinguistics Inquiry

The field of psycholinguistic is relatively young. Some researches that its birth to the early 1950s when psycholinguistics and linguist met to discuss whether advance in experimental psychology cloud be applied to the study of language performance and comprehension. psychology during the 1950s was strongly governed by behaviorist, or learning theory, principle that emphasized serial pattering in behavior.

  1. F.      The Acquisitions Of Language By Children

An important of Chomsky’s early writing (1957, 1965) was its emphasis on the rule of linguistics theory and the limit of behaviorist psychology in explaining the acquisition of language by children :

  1. The first stage or phonological acquisitions

Example: a word like “mama” can use to means anything from “there’s mama “ to mama, I’ m hungry”

  1. The two word stage

Example: dog may first be use to refers to all animal

  1. The third state or syntactic

Example: the child my hypothesize that the past tense ending for all English verb is-ed, that production such form as go “goed”, sing “ singed”.


TOPIC II

THE BIOLOGICAL BASES OF HUMAN

COMMUNICATIVE BEHAVIOR

  1. A.    Language And The Brain : A historical Perspective

The Biological Basis of Human Behavior accomplishes what numerous introductory books have failed to do: present an evolutionary explanation of why it is we do what we do. This comprehensive book brings together a diverse number of traditionally separate disciplines including pale anthropology, psychology, and sociology in its attempt to understand human traits.

Rich in controversial topics, this text integrates subjects such as paleontology, speech, the structure of the brain, Eve, and the rather odd way in which humans reproduce. Written as a narrative, this excellent learning tool relates modern behavior to the past environments, stresses, and challenges still evident in the modern human world.

For anyone interested in the biological bases of human behavior; psychology; or anthropology.

 

  1. B.     Early Neurolinguistic Observations

Many have regarded it as the first mention of aphasia (loss abilities due to brain damage). To this day, trauma (injurity to the brain produced by external force) continues to provide us with insights into brain function.

  1. The ancient Greeks offered little insight in their speculation, despite their contribution in many other areas of inguiry. For example Aris Totle (384-322)
  2. Hippocratic scholars (467-370) correctly observed that brain injury often produced contra lateral (opposite-sided) paresis (semi paralysis) .
  3. Herophilus and Galen, in the second century , developed the Ventricle or Cell Theory of brain function, which localized brain activity to its cavities, the ventricles, where cerebral spinal fluid (CSF) production takes places.
  4. G. Mercuriale (1588) first described what is know as pure alexia or alexia without agraphia. In age when scholars spoke Latin as well as their local language , the first cases of bilingual aphasia (aphasia affecting the use of two languages) were documented (Gesner,1770:see Benton,1981)

The retained ability to recite over learned materials such us prayers in the presence of severe aphasia was also noted by Peter Rommel in 1683.

  1. C.    Localization Of Function (Neurology In The Nineteenth And Twentieth Centuries)

Note that the patient in sample A appears halting, sparse, and devoid of recognizable sentence structure. This no fluent, agrammatic  type of output is  characteristic of Broca’s aphasia. By 1885, Broca believe that he had amassed enough evidence to proclaim that for the vast majority of people “noun parlons avec I’ hemi sphere gauche,” ( we speak with the left hemisphere.)”

  1. D.    Functional Neuroanatomy and Neuropathology
    1. Neuroanatomical Structure  Involved in Speech and Language

The most rostal (from the Latin” toward the break”) structure, the cerebral cortex. The cortex, like almost  every structure in the Brain (and the body), is paired it has a left and right park. Language behavior is survived by different cortical areas or loci located within different lobes of the cortex.

  1. How Speech Is Control by The Brain

Language is not the only species-specific aspect of human communication behavior; speech is also specific to human behavior (Dingwall,1975)

  1. Neural Cells and Their Connections: The ultimate Basis of All Behavior

The Brain is composed of but two types of cells: nerve cells (neurons) and glia (glue cells). Humans do not win a prize for the largest number of these cells-other animals are larges than us in body size and brain weight.

  1. What Can Go wrong With the Brain: Neuropathology

Cerebrovascular diseases kill neurons by cutting off their blood supply, thus depriving them of glucose and oxygen. Other pathologies such as trauma, tumors, and hydrocephalus destroy neuronal tissue by producing within the cranium space occupying masses that consist of blood, glial cells, or cerebrosfinal fluid.

  1. E.     Lateralization Of Function
    1. Putting one of half of the brain to sleep: the wada test
    2. Splitting apart the hemispheres: commissurotomy
    3. Taking out half the brain : hemispherectomy
    4. Listening with both ears: the dichotic listening technique
    5. What function reside in the nondominant hemisphere?
    6. When sign language users become aphasic?

 

  1. F.     Intrahemispheric  Localization of Function
    1. Measuring electrical activity in the brain.
    2. Measuring blood flow in the brain.
    3. The role of sub cortical structures in speech and language


TOPIC III

SPEECH PERCEPTION

 

  1. A.    The Historical Roots of Speech Perception

Compared to many other areas of inquiry in psycholinguistics, speech perception research is excrementally recent in origin. Willis (1829) and Helmholtz (1859) studied physical properties of sound in the nineteen century, but specific research into the way perceive speech emerged just prior to and durng the Second World War.

  1. B.     Major Questions In Speech Perception
    1. How do we identify and label phonetic segment.

In terms of its acoustical (sound) properties, human speech is a complex signal the contains many kind information at any single moment and varies continuous over time. Conversational speech in any language to be paced at 125-180 word per minute. One of the greatest challenges for speech perception researchers is to determine how individual sounds are isolated (segmented) from the complex speech signal and how they are identified appropriately.

The “Lack of Invariance” problem. It would be relatively easy to developed models of the speech perception process if each distinctive sound in a language was associated with a standard acoustic pattern.

  1. How is speech perceived under less than ideal conditions?

Conversational speech is quite variable in its acoustic characteristics. Sometimes speakers underarticulate (miss articulatory targets), so much so that the words lose much of their identifying information. Yet, listener usually have little trouble understanding such speech sample.

  1. The Speech Signal

How speech is produce. In this section, we briefly survey the process by which speech sounds are produced. How and where sounds are produced within our vocal tracts determines the acoustic properties of those sound. Because of this, sometimes we can also work backwards and identify from its acoustics image on a spectrogram where and how a particular sound was articulated.

  1. Place of articulation

We call each of these location place of articulation. Common places for English consonant are bilabial, labiodental, interdental, alveolar, palatal, and velar.

  1. Manner of production

The source of acoustic energy for speech sound production comes from modulations in the air following from the lungs to the lips. The production of any sound involved the movement of air molecules. We breathe air into our lungs to serve as the power supply for the production of speech.

  1. Distinctive feature

Linguistic have used concept such as voicing or place of articulation to develop a system of distinctive features describing speech sound. For example, all sound are characterized either by the feature+voice (voiced) or –voice (voiceless).

  1. Acoustic properties of speech sounds

Vowels: the simplest case. The easies way to demonstrate the acoustical properties of speech sounds is by describing single vowels. All speech sounds are composed of complex sound waves; that is, they contains many different frequencies simultaneously, like a musical chord that contains many notes.

  1. Acoustics characteristic of consonant

Consonant are characterized by an array of different patterns on a sound spectrogram. One more, we will starts with more easily identifiable patterns, those associated with the fricatives (s).

 

  1. C.    Perception of Phonetic Segment.

In this section we address the perception of phonetic segment. As we have seen, the speech signal is complex and contains much information in the time, frequency, and amplitude domains.

  1. The rule of speech synthesis in perceptual research.

The collaboration of three pioneers in speech perception research at Haskins Laboratories signaled the stars of research on the perceptual evaluation of acoustic cues.

  1. Ways in which speech perception is tested

Many experiments speech perception, including those that we will discuss in the following section, have made use of two tasks : discrimination and identification.

  1. Perception of vowels

The early studies made use of extended steady-state vowels as stimuli. One experiment made use of the patterns playback to synthesize the stimuli.

  1. Steady states versus formant transition in vowel identification: an illustrative study

Listeners evaluated the following types stimuli:

–          The unmodified original syllables, called control syllable.

–          Silent-centre syllables

–          Variable-centre syllables

–          Fixed-centre stimuli were constructed by the trimming segment (b) in each syllable to match the duration of the shortest target vowel.

–          Finally, listeners evaluated abutted syllables.

  1. Perception of consonant

In both conventional speech and laboratory studies, vowels are perceived more accurately than consonants.

  1. Phoneme identify is context dependent

Since the late 1950s, a great deal of research has been devoted to other types of perceptual studies primarily concerned with the determining the acoustics cues for all the phonetic contras in English and other languages.

  1. Voice-onset-time : an important acoustics cue.
  2. Categorical perception of voicing contras.
  3. Other categorical perception studies
  4. Categorical perception: specific to speech sound perception?
  5. Other applications of test paradigms used in categorical perception studies.
  1. D.    Speech Perception Beyond A Single Segment  

This section reviews the perception of speech signals longer than a single phoneme.

  1. The perceptual outcome of co articulation
  2. Perceptual effect of speaking rate
  3. Lexical and syntactic factors in word perception
  4. E.     Models of speech perception

In this section we describe several models that have been advanced to explain some of the mechanism involved in speech perception.

  1. Motor theory of speech perception
  2. Analysis-by-synthesis
  3.  Fuzzy logical model
  4. Cohort model
  5. Trace model
  6. Fuzzy logical model

 

 

 

 

 

 

 

 


TOPIC IV

WORD AND MEANING:

FROM PRIMITIVES TO COMPLEX ORGANIZATION

 

  1. A.    Word And Meaning : Separate But Linked Domain

Numerous findings, some anecdotal and some empirical, conclude that words and meanings are related but separate entities. Three line of argument make the point :

  1. The translation argument, suggest that any given language includes some words that not depend meaning for their existence and some meanings for which there are not single word.
  2. Argument for a separation of words and meaning comes from the imperfect mapping illustration.
  3.  Argument for treating word and meanings as separate comes from the elasticity demonstration, which illustrates that a word meaning can change in different contexts.
  4. B.     The Study Of Word

In this section on words. Psychologist have used a variety of experimental techniques to the study these issues. Let us first turn to a discussion of the theoretical issues that underlie this research.

  1. Word primitives

Let us begin dissecting the sentence, the impartial judge ruled the defendants guilty. Although the sentence is composed of only seven words, many of these words are complex and contain affixes that convey important information.

Evidence about word primitives:

  1. Each word (even multimorphemic) has its own lexical entry, know as a lexeme.
  2. Constituents morphemes are individually stored in the lexicon so that words are decomposed or composed.
  3. Factors influencing word access and organization

Some of these factors many influence lexical access directly :

  1. Frequency
  2. Image ability and concreteness and abstractness
  3. Grammatical class
  4. Semantics
  5. Models of lexical access
  6. Serial search models
  7. Parallel access models, which are: Logogen model, Morton (1969,1979), Connectionist models, Cohort models.
  8. Separating words and meaning.
  9. C.    Meaning.

We will begin our discussion with a presentation of the major philosophical accounts of meaning.

  1. Philosophical theories of meaning
  2. Alternative theories : meaning is in the public domain
  3. Conceptual primitives
  4. Feature theories
  5. Variations of feature theories, as we shall is the classical view and the family resemble view.
  6. Knowledge-based approaches, let us briefly review each now: psychological essentialism is the position advocated by Medin (Medin & ortony, 1989; Murphy  & Medin, 1985) and Psychological conceptualism refers to the idea that the certain contexts.
  7. Conceptual organization
  8. Models of semantic representation
  9. A special problem for the mental lexicon: lexical ambiguity. Although all meanings are activated in parallel: contexts, other factors, time course of activation, the time course of sentence contexts versus word pairs.
  10. The reciprocal and influential relationships of words and meaning

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TOPIC V

SENTENCE PROCESSING

 

  1. A.    Structural Properties Of Sentences

One reason why can process speech so rapidly is our ability to systematically make use of structure in natural language. Think for a moment of a system “ sentence”  in the abstract, a sentence following the noun-verb-noun form. Think now of the “sentence”  but in form of an action, the first noun verbed  the second noun.

  1. Statistical approximation to English . you might as known that increasing the likelihood of words by increasing contextual constraints, either with the sentences or with sentences or with statistics approximation to English.
  2. Where do people pause when the speak?. Clearly, listener know a great deal about the structure of their narrative language.
  3. B.     Syntactic Process
    1. Syntactic resolution is necessary for comprehension
    2. Surface structure versus deep structure
    3. Competence versus performance
    4. Syntactic structure of sentences
  4. C.    Sentence Parsing And Syntactic Ambiguity.

Researches have found that the way listeners and readers handle ambiguities can offer valuable insights general processing principles in language comprehension.

Local ambiguity versus standing ambiguity. Syntactic ambiguity refers to cases where a clause or sentence may have more than one interpretation given than potential grammatical functions of the individual words.

  1. D.    Models Of Sentence Parsing.

A theory similar to the first possibility is sometime referred to as the garden part model of sentence processing. A theory of similar to the second possibility is sometimes referred to as the constrains satisfaction models.

  1. Garden part models of sentence processing, the parser makes only one initial syntactic analysis of a word sequence.
  2. Constrain satisfaction model of sentence processing, models say that more than one syntactic analysis of a word sequence  may be generated during comprehension.
  3. E.     Meaning : The Goal Of Sentence Processing.

The goal of sentence processing is to arrive at the meaning of the sentence. In formal terms, this means determining the semantic relationship between the rapidly arriving words.

 

  1. F.     Is Syntax Processed Separately From Meaning.

At the time when modern psycholinguistic was first developing, psychology as a whole was largely dominated by “serial” models of mental operations. The possibility of massively parallel computers and neural network modeling was still beyond the horizontal.

  1. G.    The Role Of Prosody In Sentence Processing.             

Prosody is a general term form the variety of acoustic features-what we hear-that ordinarily accompany a spoken sentence. One prosodic feature is the intonation pattern of a sentence.

  1. H.    On-Line Interactive Models of Sentence Processing.

Support from prior context that spoken sentences can be processed so rapidli.

  1. Shadowing and gating student.
  2. How on-line is gating?. The process we wish to understand, of course, is the real-time analysis of the speech input and the automated “core process” involved in language understanding.
  3. I.       Where Does context Operate?

Modularity are those who believe that input processes such as lexical activation are cognitively impenetrable. That is, these operations are performed rapidly, automatically, and uninfluenced  by prior or collateral information.

  1. J.      Comprehension Of No literal Meaning.

A distinction important to a discussion of sentence processing is the distinction between the literal meaning of an utterance and cases where sentence also have non literal meaning. One example of non literal meaning is sarcsam.

  1. K.    The Role Of Memory In Language Processing

Martin (1990) has divided these needs into three categories:

  1. Speech perception and lexical identifications
  2. Syntactic parsing and retention of phrases
  3. Retention of semantic propositions
  4. L.     A Processing model Of Sentence Comprehension

This models   proposes that in active speech perception (or in reading), linguistic input in processed in cycles on a segment-by-segment basis.

 

 

 

 

 

 


TOPIC VI

SENTENCE COMBINED: TEXT AND DISCOURSE

 

  1. A.    Discourse And Text

Discourse refers to a ‘lengthy discussion of a subject, either written or spoken’. And text is defined as ‘any passage, spoken or written, of whatever length, that does form a unified whole.’ (Hlliday & Hasan, 1976, p. 1)

  1. Cohesion, Is defined as semantic concept that ”refers to relations of meaning that exist within the text and that define it as a text.
  2. Propositional Models of the text processing. When people listen to or read a sentence, they remember its meaning, but typically they retain information about its grammatical form for only brief time unless the syntactic form its self meaningful.
  3. Inferences, are deductions or guesses based on evidence in the text or derived from a person’s preexisting knowladge.
  4. Remembering. Schemata in 1932, Bartlett published a book that eventually revolutionized the was psychologist thought about memory. such expectation are called schemata.
  5. B.     Context
    1. Discourse as a context.
  • Context and comprehension, remembering depends on understanding.
  • Unwritten rules of discourse. Paul Grice (1075) articulated for unwritten rules for efficient speech, otherwise known as conversational maxims.
  • Ambiguity. Discourse serves as a context, affecting sentence and word-level interpretation of what would on otherwise be ambiguous words phrases in certain direction.
  • Metaphors, are in interesting form of discourse that has received attention in psychology for about 20 years, though most readers will have encountered discussion of them only in English classes.
  • Irony, is another form of figurative language that illuminates the importance of context to meaning.
  • Speech act, speakers use language for many purpose to inform, question, command, thank, apologize, congratulate, promise, offer, and marry people.
  • Politeness. Means acting so as to take account of the feelings of others and includes both those actions concerned positive face and negative face.
  1. Individual factors affecting discourse
  • Conversational style
  • Genderlect
  • Bilingual issues of discourse
  1. Bilingual issues of discourse. Dialect, Social class differences and Role
  2. Genres ( a literary form).
    1. Narrative . has received considerable attention.
    2. Expository/explanatory. The discourse that transmits such thinking.
    3. Humor. As with explanation and narrative, humor is conceptually distinct but in reality often overlaps with explanation and narrative.


TOPIC VII

SPEECH PRODUCTION

  1. A.    Introduction.

In this chapter, we discuss the by which a speaker turns a mental concept into a spoken utterances. It is more difficult to study speech production than to investigate speech perception or comprehension because of the difficulty in constructing experimental tasks that can reveal the complex steps in the process. From concept to expression. Speech communication may be viewed as a “ chain of events linking the speakers brain with the listeners brain.

  1. B.     Sources Of Data For Models Of Speech Production
    1. Speech Errors. It is of course no simple matter to try to understand any aspect of the mental processes involved in speaking.
    2. Disfluencies. In addition to speech errors, many utterances are characterized by hesitations, repetition, false stars, and filler.
  2. C.    Issues in speech production
    1. The units of speech production. When the produce an utterance corresponding to some though we wish to convey, we cannot go to a mental storage unit and pull out the appropriate stored message.

v  Phonemic segments

v  Phonetic features

v  The syllable

v  Stress

  1. Word, morpheme, and phrase units in speech production

v  Word selection and placement errors

v  Lexical search and Pausal phenomena.

v  Morphemes and speech errors

v  Grammatical rules

  1. The phrase as a planning unit

v  The phrase as a unit in slips of the tongue

v  Self-corrections and retracing

v  Pausal phenomena

  1. How far ahead do we plan?. Syntactic phrase have hierarchical structure large phrase include smaller phrase. A sentence or clause may be composed of constituent clauses, which in turn are composed of various syntactic phrase.

 

 

  1. D.    What Speech Errors Data Suggest About The Process Of Speech Production.
    1. Speech is planned in advance
    2. The lexicon is organized both semantically and phonologically.
    3. Morphologically complex words are assembled
    4. Affixes and functors behave differently from content words in slips of tongue
    5. Speech errors reflect rule knoeladge.
  2. E.     Speech Production Processing Models
    1. The utterance generator model of speech production

v  A meaning to be conveyed is generated

v  The message is mapped onto a syntactic structure

v  Intonation contours (sentence and phrasal stress) are generated on the basis of the syntactic representations.

v  Word are selected from the lexicon

v  Phonological specification

v  Generation of the motor commands for speech

  1. The garret model
  2. Level’s model

v  The image

v  The lexical level, or concept

v  The lemma level

v  The lexeme level

  1. Dell’s model. The concept of spreading activation was discussed. Dell’s spreading activation models of speech production.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


TOPIC IX

LANGUAGE ACTION

 

  1. A.    Research Methods In The Study Of Language Development
    1. Diaries and parental reports

The first studies some as early as the 18th century  were almost invariably based on observations of the author’s own children and were kept in the form of diaries.

  1. Observation

Spurred by the dramatic changes in linguistic theory during the early 1960s discussed in chapter 1, developmental psycholinguistics began to collect tape-recorded observational data on children’s language and conduct experimental research based on children’s abilities to produce and comprehend specific structure of English.

  1. Interviews

In general, we explore children’s language systems indirectly, at least in part because their met linguistic capacities are limited; it would be difficult to ask them what their rules are or what they find acceptable.

  1. Experimental Techniques. Various experimental techniques assess infant and child language knowledge.
  2. Child language data exchange system (CHILDES)
  3. Research design . The design of studies can be either cross-sectional or longitudinal.
  4. B.     The Development Of Speech Perception
    1. Methods for studying speech perception in infants
    2. How speech perception developed
  • Prenatal auditory exposer and learning
  • Early speech perception
  • Linguistic specialization.
  1. C.    The Child’s Lexicon
    1. Before first words
    2. First words
  • Comprehension lead production
  • Characteristic of early vocabulary and their determinants
  • .How do children determine what words means? Its doesn’t take long for a child to assign some form meaning to a new word.
  • How to learn what words means: some possible strategies.
  • How do children determine the part of speech of a novel word? The context in which children encounter new nouns are relatively favorable for making linkages between object and names.
  1. Some words are more difficult to learn than others. Not all words are equally easy for children to learn.
  2. Lexical organization and word association.
  3. D.    Learning To Make And Understand Sentences.
    1. Assessing syntactic knowledge. We have already discussed methods that researches use to analyze children’s say in naturalistic setting.
    2. Methods for assessing syntactic understanding. Historical, researches have tasted children’s understanding of sentences by asking them to act sentence out using object.
    3. Moving from words to sentences. Which  Early sentences and Early grammar.
    4. Learning to make sentences in English. Certainly, acquisition of morphological markers such as verbal inflection, articles, plurals, and so fort is necessary for the creation of well-formed sentences in English. Learning to say no, learning to ask questions.
  4. E.     Learning To Communicate : Early Social Uses Of  Language.

When children have acquired linguistic principle such as conversational turn-taking and many semantic relations, much of their early speech is directed toward maintaining contact with caregivers and getting others to do things for them.

Learning to take perceptive: the demise of egocentrism. Is Young children sometimes show evidence of an ability to take perspective of their listener.

  1. F.     Theories Of Child Language Acquisition.
    1. What must theories of language development account for? In reviewing the theories of language acquisition we present below, remember that each must account for some facts about child language development.
    2. General features of theories. Developmental psycholinguistics is filled with lively theoretical controversy about how best to account for language development.
    3. Major dimension of language development theories.
    4. Linguistics/innatist theory.
  2. G.    Perspectives: What Do The Data Tells Us About The Theories?
    1. Nature or nature? Clearly, the answer to this question is a resounding “both”
    2. Biological bases.
    3. Biological, cognitive, and social interaction.
    4. Continuity or discontinuity
    5. Universal competence or individual variation
    6. Structure or functions


TOPIC X

A PSYOCHOLINGUSTIC ACCOUNT OF RAEDING

 

  1. A.    A History Of Writing Systems.

The history of written language is relatively recent and varies somewhat in chronology: early writing appears to have evolved independently   in different parts of the word.

  1. B.     The Alphabet

Nowhere is this transformation more obvious than in the introduction of the Greek alphabet, upon which all modern alphabets are based.

  1. C.    The Underlying Elements Of Reading

The number of processed involved in reading, the complex nature of each, and the daunting demand posed by their rapid interaction help us understand the difficulty of acquiring the alphabetic principle.

  1. Representational system in word identification, which are: phonological coding, semantic coding, syntactic/grammar coding, the visual system, and motor system.
  2. Cognitive processes involved in reading and all learning. Which are: attention, associative learning, cross-modal transfer, patterns analysis and rule learning, and serial memory.
  3. D.    The Development Of Reading
    1. The protoliteracy period. A child’s attainment of reading ability is rooted in spoken language skill. which are: phonological skills, vocabulary knowledge, letter recognition and naming speed abilities.
    2. Stage of literacy. The actual stages of literacy acquisition are a matter of continuing discussion.
  4. E.     Models Of Skilled Reading.
    1. Context-driven, “top-down” models
    2. Stimulus-driven ,”bottom-up” models
    3. Whole-word models
    4. Component-letter models
    5. Multilevel and parallel coding-system models, which are: Laberge and Samuel’s multilevel coding model, parallel coding-system models.
    6. Lexical-search models. Whereas- search models postulate the period words identified  by passive and automatic activation of letter and word detector.

Kurikulum Dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Islam

ARTIKEL
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

Tentang
Kurikulum Dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Islam

Oleh:
IHSANUL AMRI
404.606

Dosen Pembimbing:

M. ZALNUR, M.Ag

JURUSAN TADRIS BAHASA INGRIS
FAKULTAS TARBIYAH
IAIN IMAM BONJOL PADANG
2011
KURIKULUM DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

Kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan dalam suatu sistem pendidikan. Jadi kurikulum merupakan alat dalam pencapaian tujuan pendidikan dan sekaligus sebagai pediman dalam pelaksaan pembelajaran pada semua jenis dan tingkat pendidikan.
Hasan Langgulung mengungkapkan empat ciri-ciri utama dari kurikulum, yaitu:
1. Tujuan pendidikan yang ingin dicapai oleh kurikulum itu.
2. Pengetahuan (knowledge) ilmu-ilmu data, aktivitas-aktivitasnya dan pengalaman-pengalaman dari mana terbentuk kurikulum itu.
3. Metode dan cara-cara mengajar dan bimbingan yang diikuti murid-murid untuk mendorong mereka ke arah yang dikehendaki dan tujuan-tujuan yang dirancang.
4. Metode dan cara penilaian yang digunkan untuk mengukur dan menilai hasil proses pendidikan yang dirancang dalam kurikulum. )
Berangkat dari ke kempat hal yang menjadi aspek pokok kurikulum, maka jika dikaitkan dengan falsafah pendidikan yang dikembangkan oleh pendidikan tentu semua akan menyatu dan terpadu dengan ajaran Islam itu sendiri. Tujuan pendidikan Islam tentu semua akan menyatu dan terpadu dengan ajaran Islam itu sendiri.
Pendidikan yang merupakan suatu proses pemanusiaan manusia pada hakekatnya adalah sebuah upaya untuk meningkatkan kualitas manusia. Oleh karena itu, setiap proses pendidikan akan berusaha mengembangkan seluas-luasnya potensi individu sebagai sebuah elemen penting untuk mengembangkan dan mengubah masyarakat (agent of change). Dalam upaya itu, setiap proses pendidikan membutuhkan seperangkat sistem yang mampu mentransformasi pengetahuan, pemahaman, dan perilaku peserta didik. Dan salah satu komponen operasional pendidikan sebagai sistem adalah kurikulum, dimana ketika kata itu dikatakan, maka akan mengandung pengertian bahwa materi yang diajarkan atau dididikkan telah tersusun secara sistematik dengan tujuan yang hendak dicapai.
Dari beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas lulusan suatu lembaga pendidikan, barangkali kurikulumlah yang bisa dianggap menjadi prioritas utama untuk diperhatikan. keberadaan kurikulum tidak saja terbatas pada materi yang akan diberikan di dalam ruang kelas, melainkan juga meliputi apa saja yang sengaja diadakan atau ditiadakan untuk dialami peserta didik. Oleh karena itu, posisi kurikulum menjadi mata rantai yang urgen dan tidak dapat begitu saja dinafikan dalam konteks peningkatan kualitas sebuah lembaga pendidikan.

KURIKULUM

Kurikulum berasal dari bahasa yunani, yaitu curir yang artinya pelari dan curare yang artinya tempat berlari. Jadi istilah kurikulum berasal dari dunia olah raga pada zaman Romawi Kuno di Yunani, yang mengandung pengertian suatu jarak ayng harus ditempuh oleh pelari dari garis start sampai garis finish. )
Dalam bahasa arab, kata kurikulum diungkapkan dengan Manhaj yang berarti jalan yang terang yang dilalui manusia pada berbagai bidang kehidupan. Sedangkan kurikulum pendidikan (Manhaj Al-Dirasah) dalam Qamus Tarbiyah adalah seperangkat perencanaan dan media yang dijadikan acuan oleh lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan. )
Khoiron Rosyadi, kurikulum diartikan sebagai sesuatu yang direncanakan untuk dipelajari oleh anak didik. )
Pengertian seperti tersebut di atas merupakan pengertian kurikulum yang sempit, dimana kurikulum diartikan secara terbatas karena masih belum mencakup aktivitas peserta didik dalam proses kependidikan. Hal inilah yang selama beberapa dekade ini telah mengebiri kurikulum pendidikan kita serta mengarahkannya pada nasionalisme yang sempit dan uniformitas (keseragaman) baik dalam berpikir dan bertindak, yang secara tidak langsung memasung kreatifitas guru dan memperendah proses perkembangan imajinasi, keberanian dan daya berpikir peserta didik. Konsep sentralisasi tersebut merupakan bagian dari kelemahan struktur dan mekanisme praktek pendidikan kita yang selama ini terlalu menekankan pada proses. Sehingga telah melahirkan suatu kecenderungan proses pengajaran oleh guru (teacher centre) dibandingkan dengan yang seharusnya sebagai proses pembelajaran oleh peserta didik (student centre). Guru diharuskan melaksanakan tugas dengan metode sebagaimana petunjuk dari atas, terlepas setuju atau tidak setuju, suka atau tidak suka dan cocok tidaknya metode tersebut dengan materi yang disampaikan. Dengan kata lain pendidikan seharusnya lebih menekankan pada aspek pembelajaran (learning) dan bukan pengajaran (teaching).
Pandangan yang menganggap kurikulum sebagai sejumlah mata pelajaran merupakan pandangan yang dianggap tradisional, walaupun pada kenyataan yang kita lihat sekarang ini hal itu masih banyak dianut oleh orang.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat membawa dampak terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk terjadinya pergeseran fungsi sekolah sebgai suatu institusi pendidikan. Seiring dengan tumbuhnya berbagai macam kebutuhan dan tuntutan kehidupan, beban sekolah semakin berat dan komplek. Sekolah tidak hanya dituntut untuk membekali berbagai macam ilmu pengetahuan yang sangat cepat berkembang, akan tetapi juga dituntut untuk dapat mengembangkan minat dan bakat, membentuk moral dan kepribadian, bahkan dituntut agar anak didik dapat menguasai berbagai macam keterampilan yang dibutuhkan untuk memenuhi dunia pekerjaan.
Tuntutan-tuntutan baru yang dibebankan masyarakat terhadap sekolah tersebut, mengakibatkan terjadinya pergeseran makna dari kurikulum tersebut. Kurikulum tidak lagi hanya dianggap sebagai satuan mata pelajaran, akan tetapi juga di anggap sebagai pengalaman belajar siswa. Kurikulum dimaknai sebagai seluruh kegiatan yang dilakukan siswa baik di dalam maupun diluar sekolah asalkan kegiatan tersebut masih dalam tangung jawab sekolah. Maksudnya di sini adalah kegiatan tersebut bukan hanya terbatas pada kegiatan intra maupun ekstra kurikuler, melainkan apapun kegiatan yang dilakukan oleh siswa baik itu di dalam sekolah ataupun diluar sekolah (diluar jam pelajaran sekolah) asalkankegiatan tersebut masih dalam tanggung jawab dan masih dalam bimbingan guru. Misalkan kegitan anak dalam mengerjakan tugas rumah, pengerjaan tugas kelompok, belajar kelompok, mengadakan observasi, wawancara dan sebagainya, itu merupakan bagian dari kurikulum karena kegiatan-kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan seefisien mungkin sesuai dengan yang telah diporgramkan sekolah.
Banyak tokoh yang menganggap kurikulum itu adalah pengalaman, salah satunya adalah Romine (1945) yang mengatakan: “Curriculum is interpreted to mean all of the organizer courses, activities, and experience wich pupils have under directionof the school, wether in the classroom or not”.
Pergeseran makna kurikulum dari sejumlah mata pelajaran kepada pengalaman, selain disebabkan meluasnya fungsi dan tanggung jawab sekolah, juga dipengaruhi oleh penemuan-penemuan baru khusunya penemuan dalam bidang psikologi belajar. Panadangan baru dalam psikologi belajar menganggap bahwa bwlajar itu bukan hanya mengumpukan sejumlah pengetahuan, akan tetapi proses perubahan perilaku siswa. Dengan demikian, siswa telah belajar manakala telah memiliki perubahan perilaku. Peribahan perilaku itu akan terjadi manakala siswa telah memiliki pengalaman belajar. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa pengalaman serta proses belajar itu lebih penting daripada hanya menumpuk sejumlah pengetahuan. Kalaulah kurikulum dianggap sebagai pengalaman atau seluruh aktivitas yang dilakukan siswa selama berlangsungnya proses pembelajaran, maka untk memahami kurikulm sekolah tidak cukup hanya dengan melihat dokumen kurikulum sebagai suatu program tertulis, akan tetapi juga bagaiman proses pembelajaran itu berlangsung, baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah. Hal ini harus betul-betul dipahami sebab kaitannya sangat erat dengan evaluasi keberhasilan pelaksanaan kurikulum, yaitunya bahwa pencapaian target pelaksanaan suatu kurikulum tidak hanya diukur dari kemampuan siswa dalam menguasai seluruh isi atau materi pelajaran, akan tetapi juga harus dilihat dari proses kegiatan siswa sebagai pengalaman belajar.
Akan tetapi seiring perjalanan waktu, konsep tersebut mulai mengundang kritikan dan ketidaksepahaman. Hal itu dikarenakan munculnya pertanyaan tentang bagaimana menentukan dan mengukur pengalaman belajar. Tentulah hal itu bukanlah suatu pekerjaan yang sederhana. Segala bentuk perilaku siswa merupakan Hasil dari pengalamannya yang tidak mungkin dapat dikontrol guru. Oleh karena itu, kurikulum sebagai suatu pengalaman dianggap beberapa ahli sebagai konsep yang luas. Karena itu makna kurikulum dianggap menjadi kabur serta tidak fungsional, hingga muncullah konsep yang menganggap kurikulum sebagai suatu program atau rencana untuk belajar.
Hal ini dapat di lihat dari rumusan para ahli seperti Zakiyah Darajat yang memandang kurikulum sebagai suatu program yang direncanakan dalam bidang pendidikan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan-tujuan tertentu. ) Dr addamardasyi Sarhan dan Dr. Munir Kamil yang disitir oleh Al-Syaibani, bahwa kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olahraga dan kesenian yang disediakan oleh sekolah bagi murid-muridnya di dalam maupun di luar sekolah dengan maksud menolong untuk berkembang menyeluruh dalam segala segi dan merubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan-tujuan pendidikan. )
Kurikulum sebagai suatu rencana tampaknya juga sejalan dengan rumusan kurikulum menurut undang-undang pendidikan kita yang menjadi acuan dalam penyelenggaraan sistem pendidikan. Menurut UU No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dikatakan bahwa kurikulum seperangkat rencana dan peratutan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. )
Perlu kita pahami bahwa sekolah didirikan untuk membimbing peserta didik agar berkembang sesuai dengna tujuan yang diharapkan. Ini berarti titik sentral dari kurikulum adalah anak didik itu sendiri.
Dengan demikian, pengertian kurikulum dalam pandangan modern merupakan program pendidikan yang disediakan oleh sekolah yang tidak hanya sebatas bidang studi dan kegiatan belajar saja. Akan tetapi meliputi segala sesuatu yang dapat mempengaruhi perkembangan dan pembentukan pribadi siswa sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan sehingga dapat meningkatkan mutu kehidupannya yang pelaksaannya bukan hanya disekolah, tapi juga diluar sekolah.
Jika diaplikasikan dalam kurikulum pendidikan Islam, maka kurikulum berfungsi sebagai pedoman yang digunakan oleh pendidik untuk membimbing peserta didiknya ke arah tujuan tertinggi pendidikan Islam melalui akumulasi sejumlah pengetahuan, keterampilan dan sikap atau perilaku. Dalam hal ini proses pendidikan Islam bukanlah suatu proses yang dilakukan secara sembarangan, tetapi hendaknya mengacu kepada konseptualisasi manusia paripurna yang strateginya telah tersusun secara sistematis dalam kurikulum pendidikan Islam.
Jadi, segala usaha sekolah untuk mempengaruhi anak itu belajar, apakah dalam ruangan kelas, di halaman sekolah, atau di luar sekolah, dapat dikategorikan sebagai kurikulum. Dengan demikian, kurikulum meliputi segala pengalaman yang disajikan oleh sekolah agar anak mencapai tujuan yang diinginkan. Hal demikian dikarenakan suatu tujuan tidak akan tercapai dengan suatu pengalaman saja, akan tetapi melalui berbagai pengalaman dalam bermacam-macam situasi, di dalam maupun di luar sekolah.
Suatu kurikulum pendidikan, termasuk kurikulum pendidikan Islam, hendaknya mengandung beberapa unsure utama seperti tujuan, isi mata pelajaran, metode mengajar, dan metode panilaian. Semua harus tersusun dan mengacu pada suatu sumber kekuatan yang menjadi landasan dalam pembentukannya.
Muhammad al-Thoumy Al-Syaibany, mengemukakan bahwa asas-asas umum yang menjadi landasan pembentukan kurikulum dalam pendidikan Islam adalah asas agama, asas falsafah, asas psikologi, asas sosial. ) semua asas tersebut harus dijadikan landasan dalam pembentukan kurikulum pendidikan Islam. Satiap asas tersebut tidak berdiri sendiri, tapi merupakan satu kesatuan yang utuh sehingga dapat membentuk kurikulum pendidikan Islam yang terpadu, yaitu kurikulum yang relevan dengan kebutuhan Perkembangan anak didik dalam undue ketauhitan, keagamaan pengembangan potensinya sebagai khalifah, pengembangan dalam kehidupan social.

KEHARUSAN PEMBARUAN DAN PENGEMBANGAN

Sebagai salah satu komponen yang memiliki peranan sangat penting dalam pendidikan, maka pentingnya fungsi peranan kurikulum pada setiap pembaharuan dan pengembangan kurikulum juga harus didasarkan pada fondasi yang kuat. Layak membangun sebuah gedung, maka diperlukan fondasi yang kuat, karena semakin kokoh fondasi gedung tersebut, maka semakin kokoh pula gedung tersebut. Kesalahan dalam menentukan dan menyusun fondasi kurikulum berarti kesalahan dalam memtukan kebijakan dan implementasi pendidikan.
Pada hakikatnya, pengembangan kurikulum adalah proses penyusunan rencana tentang isi dan bahan pelajaran yang harus dipelajari serta serta bagaimana cara mempelajari. Namun demikian, persoalan mengembangkan isi dan bahan pelajaran serta bagaimana cara siswa belajar bukanlah suatu proses yang sederhana begitu saja. Hal ini disebabkan dalam menentukan isi atau muatan kurikulum harus berangkat dari visi, misi, serta tujuan yang ingin dicapai. Dalam mennukan tujuan, erta sekali kaitannya dengan persoalan sistim nilai dan kebuhan masyarakat. Persoalan inilah yang kemudian membawa kita pada persoalan menentukan hal-hal yang mendasar dalam proses pengembangan kurikulum.
Seller dan miller (1985) mengemukakan bahwa proses pengembangan kurikulum adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan secara terus menerus. Seller memandang juga memandang bahwa pengembangan kurikulum harus dimulai dari menentukan orientasi kurikulum, yakni kebijakan-kebijakan umum, misalnya arah dan tujuan pendidikan, pandangan tentang hakikat belajar dan hakikat anak didik, pandangan tentang keberhasilan implemenasi kurikulum. )
Seller juga mengungkapkan enam aspek orientasi pengembangan kurikulum, yaitu:
1. Tujuan pendidikan menyangkut kea rah kegiatan pendidikan. Artinya hendaknya dibawa kemana siswa yang kita didik.
2. Pandangan tentang anak, apakah anak dianggap sebagai organism yang aktif atau pasif
3. Pandangan tentang proses pembelajaran, apakah proses pembelajaran itu dianggap sebagai proses transformasi ilmu pengetahuan atau mengubah perilaku anak.
4. Pandangan tentang ligkungan, apakah lingkungan belajar harus dikelola dengan secara formal datau secara bebas yang dapat memungkinkan anak bebas belajar.
5. Konsepsi tentang peranan guru, apakah guru harus berperan sebagai instruktur yang bersifat otoriter atau guru dianggap sebagai fasilitator.
6. Evaluasi belajar, apakah mengukur keberhasilan harus ditentukan dengan tes atau nontes. )

Ada tiga landasan dalam pengembangan kurikulum yaitunya: )

1. Landasan Filsafat
Dalam pengembangan kurikulum muncul pertanyaan-pertanyaan pokok seperti: hendak dibawa kemana siswa yang dididik itu? Msyarakatyang bagaimana harus diciptakan melaui ikthiar pendidikan? Apakah hakikat pengetahuan yang harus dipelajari dan dikaji siswa? Norma-norma atau sistim nilai yang bagaimana yang harus diwariskan kepada anak didik sebagai generasi penerus? Dan bagaiman seharusnya proses pendidikan itu berlangsung?
Sebagai landasan fundamental, filasafat memegang peranan penting dalam proses pengembangan kurikulum. Ada empat fungsi filasat dalam mengembangkan kurikulum yaitu:
1. Filsafat dapa menentukan arah dan Tujuan pendidikan. Dengan filsafat segaai pandangan hidup, atau value sistem, maka dapat ditentukan mau dibawa kemana siswa yang kita didik.
2. Filsafat dapat menentukan materi dan bahan ajaran yang diberkan sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
3. Filsafat dapat menentukan strategi atau cara penyampaian tujuan. Sebagai sistem nilai, filsafat dapat dijadikan pedoman dalammerancang kegiatan pembelajaran.
4. Melaui filsafat dapat ditentukan baaiman menentukan tolak ukur keberhasilan proses pendidikan. )
Dari penjelasan tentang fungsi-fungsi filasafat dalam pengembangan kurikulum maka semua pertanyaan pokok yang timbul dalam pengembangan kurikulum dapat terjawabkan. Filsafat merupakan landasan yang paling utama dalam pengembangan kurikulum. Filsafat sangat penting, khususnya dalam pengambilan keputusan pada setiap aspek kurikulum, dimana setiap keputusan harus ada dasarnya (landasan filosofisnya). Para pengembang kurikulum harus mempunyai filsafat yang jelas tentang apa yang mereka junjung tinggi. Filsafat yang kabur akan menimbulkan kurikulum yang tidak tentu arah. Kurikulum sebagai rancangan dari pendidikan, mempunyai kedudukan yang cukup sentral dalam keseluruhan kegiatan pendidikan karena kurikulum menentukan proses pelaksanaan dan hasil daripada pendidikan. Mengingat begitu pentingnya peranan kurikulum dalam pendidikan dan perkembangan kehidupan manusia, maka pengembangan kurikulum tidak dapat dirancang sembarangan.
Kurikulum sebagai suatu program dan alat untuk mencapai tujuan pendidikan, mempunyai hubungan dengan proses perubahan perilaku peserta didik. Dalam hal ini kurikulum merupakan suatu program pendidikan yang berfungsi sebagai alat untuk mengubah perilaku peserta didik (peserta didik) ke arah yang diharapkan oleh pendidikan. Oleh sebab itu, proses pengembangan kurikulum perlu memperhatikan asumsi-asumsi yang bersumber dalam bidang kajian psikologi. Pengembangan kurikulum membutuhkan landasan-landasan yang kuat, yang didasarkan atas hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam.
2. Landasan Psikologis
Kurikulum merupakan pedoman bagi guru dalam anak didik sesuai dengan yang diharapakn dalam tujuan pendidikan. Secara psikologis, anak didik memiliki keunikan dan perbedaan-perbedaan baik perbedaan bakat, minat, maupun potensi yang dimilikinya sesuai dengan tahapa perkembangannya. Dengan alasan itulah kurikulum harus memperhatikan kondisi psikologis Perkembangan dan psikologi belajar anak.
Pemahaman tentang anak bagi seorang pengembang kurikulum sangatlah penting. Kesalahna persepsi dan kedangkalan pemahaman tentang anak dapat menyebabkan kesalahan arah dan kesalahan praktik pendidikan.
Jadi, Landasan psikologis pengembangan kurikulum menuntut agar dalam pengembangan kurikulum harus memperhatikan dan mempertimbangkan aspek peserta didik dalam pelaksanaan kurikulum sehingga nantinya pada saat pelaksanaan kurikulum apa yang menjadi tujuan kurikulum akan tercapai secara optimal. Sehingga unsur psikologis dalam pengembangan kurikulum mutlak perlu diperhatikan.

3. Landasan Sosiologis Teknologis
Sekolah berfungsi mempersiapkan anak didiknya agar dapat berperan aktif dalam masyarakat. Oleh karena itu, kurikulum sebagai alat dan pedoman dalam proses pendidikan di sekolah harus relevan dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Dengan demikian dalam konteks ini sekolah tidak hanya berfungsi untuk mewariskan kebudayaan dan nilai-nilai suatu masyarakat, akan tetapi sekolah juga berfungsi untuk mempersiapkan anak didik dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, kurikulum bukan hanya berisi berbagai nilai suatu masyarakat akan tetapi bermuatan segala sesuatu leh karena itu, kurikulum bukan hanya berisi berbagai nilai suatu masyarakat akan tetapi bermuatan segala sesuatu yang dibutuhkan masyarakat.

Kenapa kurikulum harus berubah ? demikian pertanyaan yang kerapkali dilontarkan orang, ketika menanggapi terjadinya perubahan kurikulum yang terjadi di Indonesia. Jawabannya pun sangat beragam, bergantung pada persepsi dan tingkat pemahamannya masing-masing. Sepanjang sejarahnya, di Indonesia telah mengalami beberapa kali perubahan hingga ada kesan di masyarakat bahwa “ganti menteri, ganti kurikulum”.Perubahan kurikulum pada dasarnya memang dibutuhkan manakala kurikulum yang berlaku (current curriculum) dipandang sudah tidak efektif dan tidak relevan lagi dengan tuntutan dan perkembangan jaman dan setiap perubahan akan mengandung resiko dan konsekuensi tertentu.
Perubahan kurikulum yang berskala nasional memang kerapkali mengundang sejumlah pertanyaan dan perdebatan, mengingat dampaknya yang sangat luas serta mengandung resiko yang sangat besar, apalagi kalau perubahan itu dilakukan secara tiba-tiba dan dalam waktu yang singkat serta tanpa dasar yang jelas.
Namun dalam konteks KTSP, perubahan kurikulum pada tingkat sekolah justru perlu dilakukan secara terus menerus. Dalam hal ini, perubahan tentunya tidak harus dilakukan secara radikal dan menyeluruh, namun bergantung kepada data hasil evaluasi. Mungkin cukup hanya satu atau beberapa aspek saja yang perlu dirubah.
Kita maklumi bahwa semenjak pertama kali diberlakukan KTSP yang terkesan mendadak, kegiatan pengembangan kurikulum di sekolah sangat mungkin diawali dengan keterpaksaan demi mematuhi ketentuan yang berlaku, sehingga model yang dikembangkan mungkin saja belum sepenuhnya menggambarkan kebutuhan dan kondisi sebenarnya di sekolah. Oleh karena itu, untuk memperoleh model kurikulum yang sesuai, tentunya dibutuhkan perbaikan-perbaikan yang secara terus-menerus berdasarkan data evaluasi, hingga pada akhirnya dapat ditemukan model kurikulum yang lebih sesuai dengan karakteristik dan kondisi nyata sekolah.
Justru akan menjadi sesuatu yang aneh dan janggal, kalau saja suatu sekolah semenjak awal memberlakukan KTSP hingga ke depannya tidak pernah melakukan perubahan-perubahan apapun. Hampir bisa dipastikan sekolah yang demikian, sama sekali tidak menunjukkan perkembangan.
Oleh karena itu, dalam rangka menemukan model kurikulum yang sesuai di sekolah, sudah seharusnya di sekolah dibentuk tim pengembang kurikulum tingkat sekolah yang bertugas untuk memanage kurikulum di sekolah. Memang saat ini, di sekolah-sekolah sudah ditunjuk petugas khusus yang menangani kurikulum yang biasanya dipegang oleh wakasek kurikulum. Namun pada umumnya mereka cenderung disibukkan dengan tugas -tugas yang hanya bersifat rutin dan teknis saja, seperti membuat jadwal pelajaran, melaksanakan ulangan umum atau kegiatan yang bersifat rutin lainnya. Usaha untuk mendesain, mengimplementasikan, dan mengevaluasi serta mengembangan kurikulum yang lebih inovatif tampaknya kurang begitu diperhatikan. Dengan adanya Tim Pengembang Kurikulum di sekolah maka kegiatan manajemen kurikulum mungkin akan jauh lebih terarah, sehingga pada gilirannya pendidikan di sekolah pun akan jauh lebih efektif dan efisien.

FILOSOFI
Pada hakikatnya kurikulum berfungsi untuk mempersiapkan anggota masyarakat yang dapat mempertahankan, mengembangkan, dan dapat hidup dalam sistem nilai masyarakatnya sendiri. Oleh sebaba itu dalam sistim pengembangannya harus mencerminkan sistem nilai masyarakat. Filsafat sebagai sistem nilai harus dijadikan landasan dalam menentukan tujuan pendidikan. Artinya, pandangan hidup atau tujuan yang dianggap baik oleh suatu masyarakat akan tercermin dalam tujuan pendidikan yang harus dicapai.
Di Indonesia, sistim nilai yang berlaku adalah pancasila. Oleh sebab itu untuk membentuk manusia yang sesuai dengan pancasila merupakan Tujuan dan arah dari segala ikhtiar berbagai level dan jenis pendidikan. Dengan demikian isi kurikulum yang disusun harus memuat dan mencerminkan nilai-nilai pancasila. Nilai-nilai atau norma yang diakui sebagai pandangan hidup seuatu bangsa, seperti pancasila bagi bangsa Indonesia, bukan hanya harus menjiwai isi kurikulum yang berlaku, akan tetepai harus mewarnai filsafat dan Tujuan lembaga sekolah dan merembes ke dalam praktik pendidikan oleh guru dalam kelas. Dalam melaksanakan kegiatan serta pengambilan berbagai keputusan guru haruslah mencerminkan nilai-nilai itu. Itulah sebabnya, walaupun setiap guru dapat saja memiliki norma atau sistem nilai yang dianggap baik, akan tetapi nilai-nilai itu jangan sampai bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.
Menurut Bloom (1865) Tujuan pendidikan dapat digolongkan kepada tiga klasifikasi atau tiga domain, yaitu domain kognitif, domain afektif, dan domain psikomotor. ) Domain kognitif berhubungan dengan pengembangan intelektual dan kecerdasan. Afektif berhubungan dengan pengembangan sikap dan psikomotor berhubungan dengan keterampilan. Setia warga negara atau masyarakat, akan memaknai ketiga bidang itu sesuai dengan sistem nilai yang berlaku. Jadi, Indonesia sebagai Negara ynag memliki sistem nilai sendiri yaitunya pancasila, maka ketiga bidang itu mesi dibingkai oleh kebenaran nilai-nilai pancasila. Kecerdasan yang harus dikembangkan, sikap yang harus ditanamakn, dan keterampilan yangharus dikuasai oleh setiap anak didik kita tidak terlepas dari nilai¬-nilai pancasila. Dengan demikian sebagai sistim nilai, pancsila menjadi bingkai dari Tujuan dan pelaksanaan pendidikan.
Pendidikan Islam secara fungsional adalah upaya manusia muslim dalam merekayasa pembentukan al-insan al-kamil melaui penciptaan situasi interaksi edukatif yang kondusif. Dalam posisinya yang demikian, pendidikan Islam adalah model rekayasa individual dan social yangpaling efektif untuk menyiapkn dan mencipatakan bentuk masyarakat ideal ke masa depan.
Sejalan dengan konsep perekayasaan masa depan ummat, maka pendidikan Islam harus memiliki seperangkat isi atau bahan yang akan ditransformasi kepada peserta didik agar menjadi milik dan kepribadiannya sesuai dengan idealitas Islam. Untuk itu perlu dirancang suatu bentuk kurikulum pendidikan Islam yang sepenuhnya mengacu pada nilai-nilai asasi ajaran Islam. Dalam kaitan inilah diharapkan filsafat pendidikan Islam mampu memberikan arah terhadap pembetukan pendidikan yang Islami.
Proses pendidikan Islam bukanlah proses yang dilakukan secaa serampangan, karena landasan yangdigunakan pendidik untuk membimbing peserta didiknya harus melalui akumulasi sejumlah pengetahuan, keterampilan, sikap dan mental. Ini berarti proses pendidikan Islam bukan subuah proses sederhana saja, tapi mengacu pada konseptualisasi manusia paripurna (baik secara kahlifah maupun ‘Abd) melaui transformasi sejumlah pengetahuan, keterampilan dan siap mental yang harus tersusun dalam kurikulum pendidikan Islam. Disenilah peran filsafat pendidikan Islam dam memberikanpandangan filosofis tentanghakikat pengetahuan, keterampilan dan sikap mental yang dapat dijadikan pedoman dalam pembentukan mausian paripurna (al-insan al-kamil). )
DALIL

1. Surat Al-Alaq Ayat 1-5

                        
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Kalau ditinjau dari segi kurikulum sebenarnya firman Allah SWT diatas merupakan bahan pokok pendidikan yang mencakup seluruh ilmu pengetahuan. Yang dibutuhkan manusia.

2. Surat Luqman Ayat 13

               
13. Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

3. Surat Luqman Ayat 14

     •            
14. Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu.

Kata telah terucap, tangan telah tergerak, prasangka telah terungkap,
Tiada kata, Kecuali “saling maaf” jalin ukhuwah & kasih sayang raih
indahnya kemenangan hakiki, Selamat Hari Raya Iedul Fitri

Selamat Hari …… ,
Marilah Kita saling mengasihi n memaafkan…
Ku tau kau telah banyak berbuat salah Dan dosa kepadaku, sering meminjam
duit n Ga ngembaliin, pake motor Ga pernah isi bensin, tapi tak usah
risau… Ku t`lah memaafkanmu. ..

” Sepuluh jari tersusun rapi.. Bunga melati pengharum hati .. SMS dikirim
pengganti diri… Memohon maaf setulus hati … Mohon Maaf Lahir Dan Batin
.. Met Idul Fitri …

Sejalan dengan berlalunya Ramadhan tahun ini
Kemenangan akan kita gapai
Dalam kerendahan hati ada ketinggian budi
Dalam kemiskinan harta ada kekayaan jiwa
Dalam kesempatan hidup ada keluasan ilmu
Hidup ini indah jika segala karena ALLAH SWT
Kami sekeluarga menghaturkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri
Taqobalallahu minna wa minkum
Mohon maaf lahir dan bathin

Andai jemari tak smpt berjabat,andai raga tak dpt b’tatap
Seiring beduk yg mgema,sruan takbir yg berkumandang
Kuhaturkan salam menyambut Hari raya idul fitri,jk Ada kata serta khilafku
membekas lara mhn maaf lahir batin.
SELAMAT IDUL FITRI

Kumpulan ucapan minta maaf

Media Visual

Seperti halnya media yang lain, media visual berfungsi untuk menyalurkan pesan dari sumber ke penerima pesan. Pesan yang akan disampaikan dituangkan ke dalam simbol-simbol visual. Selain itu, fungsi media visual adalah untuk menarik perhatian, memperjelas sajian ide, menggambarkan atau menghiasi fakta yang mungkin akan cepat dilupakan jika tidak divisualkan.
Beberapa media yang termasuk media visual adalah:
a. Gambar atau foto
Kita sering menggunakan gambar atau foto sebagai media pembelajaran karena gambar merupakan bahasa yang umum yang dapat dimengerti dan dinikmati dimana saja oleh siapa saja. Manfaat atau kelebihan gambar atau foto sebagai media pembelajaran adalah:
1. Memberikan tampilan yang sifatnya konkrit
2. Gambar dapat mengatasi batasan ruang dan waktu
3. Gambar atau foto dapat mengatasi keterbatasan pengamatan kita
4. Dapat memperjelas suatu masalah, dalam bidang apa saja dan untuk tingkat usia berapa saja
5. Murah harganya dan mudah didapat serta digunakan tanpa memerlukan peralatan khusus
b. Sketsa
Sketsa merupakan gambar yang merupakan draft kasar yang menyajikan bagian-bagian pokonya saja tanpa detail. Sketsa selain dapat menarik perhatian peserta atau siswa juga dapat menghindari verbalisme dan dapat memperjelas penyampaian pesan.
c. Diagram
Berfungsi sebagai penyederhana sesuatu yang kompleks sehingga dapat memperjelas penyajian pesan. Isi diagram pada umumnya berupa petunjuk-petunjuk. Sebagai suatu gambar sederhana yang menggunakan garis dan simbol, diagram menggambarkan struktur dari objeknya secara garis besar, menunjukkan hubungan yang ada antar komponennya atau
sifat-sifat proses yang ada. Ciri-ciri dari sebuah diagram yang baik adalah:
1. benar, digambar rapi, diberi judul, label dan penjelasanpenjelasan yang perlu
2. cukup besar dan ditempatkan strategis
3. penyusunannya disesuaikan dengan pola membaca yang umum, dari kiri ke kanan dan dari atas ke bawah.
d. Bagan/Chart
Terdapat dua jenis chart yaitu chart yang menyajikan pesannya secara bertahap dan chart yang menyajikan pesannya sekaligus. Chart yang menyajikan pesannya secara bertahap misalnya adalah flipchart atau hidden chart, sementara bagan atau chart yang menyajikan pesannya secara langsung misalnya bagan pohon (tree chart), bagan alir (flow chart), atau bagan garis waktu (time line chart). Bagan atau chart Berfungsi untuk menyajikan ide-ide atau konsep-konsep yang sulit jika hanya disampaikan secara tertulis atau lisan secara visual. Bagan juga mampu memberikan ringkasan butir-butir penting dari suatu presentasi. Dalam bagan biasanya kita menjumpai jenis media visual lain seperti gambar, diagram, atau lambanglambang verbal.
Ciri-ciri bagan sebagai media yang baik adalah:
1. dapat dimengerti oleh pembaca
2. sederhana dan lugas tidak rumit atau berbelit-belit
3. diganti pada waktu-waktu tertentu agar selain tetap mengikuti perkembangan jaman juga tidak kehilangan daya tarik
e. Grafik
Disusun berdasarkan prinsip matematik dan menggunakan data-data komparatif, grafik merupakan gambar sederhana yang menggunakan titik-titik, garis atau simbol-simbol verbal yang berfungsi untuk menggambarkan data kuantitatif secara teliti, menerangkan perkembangan atau perbandingan sesuatu objek atau peristiwa yang saling berhubungan secara singkat dan jelas. Dengan menggunakan grafik kita dapat melakukan analisis dengan cepat, interpretasi dan perbandingan data-data yang disajikan baik dalam hal ukuran, jumlah, pertumbuhan dan arah. Terdapat beberapa macam grafik diantaranya adalah grafik garis, grafik batang, grafik lingkaran, dan grafik gambar.
f. Kartun
Suatu gambar interpretatif yang menggunakan simbol-simbol untuk menyampaikan suatu pesan secara cepat dan ringkas atau suatu sikap terhadap orang, situasi atau kejadian-kejadian tertentu. Kartun biasanya hanya menangkap esensi pesan yang harus disampaikan dan menuangkannya ke dalam gambar sederhana dengan menggunakan simbol-simbol serta karakter yang mudah dikenal dan diingat serta dimengerti dengan cepat.
g. Poster
Poster dapat dibuat di atas kertas, kain, batang kayu, seng dan sebagainya. Poster tidak saja penting untuk menyampaikan pesan atau kesan tertentu akan tetapi mampu pula untuk mempengaruhi dan memotivasi tingkah laku orang yang melihatnya. Ciri-ciri poster yang baik adalah:
1. Sederhana
2. menyajikan satu ide dan untuk mencapai satu tujuan pokok
3. berwarna
4. slogan yang ringkas dan jitu
5. ulasannya jelas
6. motif dan desain bervariasi
h. Peta dan Globe
Berfungsi untuk menyajikan data-data yang berhubungan dengan lokasi suatu daerah baik berupa keadaan alam, hasil bumi, hasil tambang atau lain sebagainya. Secara khusus peta dan globe dapat memberikan informasi tentang:
1. keadaan permukaan bumi, daratan, sungai, gunung, lautan dan bentuk daratan serta perairan lainnya
2. tempat-tempat serta arah dan jarak dengan tempat yang lain
3. data-data budaya dan kemasyarakatan
4. data-data ekonomi, hasil pertanian, industri dan perdagangan

i. Papan planel
Papan berlapis kain planel ini dapat berisi gambar atau huruf yang dapat ditempel dan dilepas sesuai kebutuhan, gambar atau huruf tadi dapat melekat pada kain planel karena di bagian bawahnya dilapisi kertas amplas. Papan planel merupakan media visual yang efektif dan mudah untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu kepada sasaran tertentu pula.
j. Papan Buletin.
Papan ini tidak dilapisi oleh kain planel, tetapi langsung ditempeli gambar atau tulisan. Papan ini berfungsi untuk memberitahukan kejadian dalam waktu tertentu. Media visual lainnya seperti gambar, poster, sketsa atau diagram dapat dipakai sebagai bahan pembuatan papan buletin.
Media grafis. Media grafis adalah suatu penyajian secara visual yang menggunakan titik-titik, garis-garis, gambar-gambar, tulisan-tulisan, atau simbul visual yang lain dengan maksud untuk mengihtisarkan, menggambarkan, dan merangkum suatu ide, data atau kejadian. Fungsi umum media grafis adalah untuk menyalurkan pesan dari sumber ke penerima pesan. Sedangkan fungsi khususnya adalah untuk menarik perhatian, memperjelas ide, mengilustrasikan atau menghiasi fakta yang mungkin akan cepat dilupakan atau diabaikan bila tidak digrafiskan. Karakteristik media grafis dapat dilihat berdasarkan ciri-cirinya, kelebihan yang dimilikinya, kelemahannya, unsur-unsur disain dan kriteria pembuatannya, dan jenisjenisnya
Ciri-cirinya, media grafis termasuk:
1. media dua dimensi sehingga hanya dapat dilihat dari bagian depannya saja; media visual diam sehingga hanya dapat diterima melalui indra mata.
2. bentuknya sederhana, ekonomis, bahan mudah diperoleh, dapat menyampaikan rangkuman, mampu mengatasi keterbatasan ruang dan waktu, tanpa memerlukan peralatan khusus dan mudah penempatannya, sedikit memerlukan informasi tambahan, dapat membandingkan suatu perubahan, dapat divariasi antara media satu dengan yang lainnya.
Kelemahan media grafis adalah: tidak dapat menjangkau kelompok besar, hanya menekankan persepsi indra penglihatan saja, tidak menampilkan unsur audio dan motion.
Unsur-unsur media grafis sering disebut sebagai unsur-unsur visual, terdiri dari: titik, garis, bidang, bentuk, ruang, warna, dan tekstur. Jenis-jenis media grafis meliputi: sketsa adalah gambar sederhana; gambar adalah bahasa bentuk/rupa yang umum; grafik adalah pemakaian lambang visual untuk menjelaskan suatu perkembangan suatu keadaan; bagan merupakan penyajian ide-ide atau konsep-konsep secara visual yang sulit bila hanya disampaikan secara tertulis atau lisan; poster merupakan perpaduan antara gambar dan tulisan untuk menyampaikan informasi, saran, seruan, peringatan, atau ide-ide lain; kartoon dan karikatur adalah gambaran tentang seseorang, suatu buah pikiran atau keadaan dapat dituangkan dalam bentuk lukisan yang lucu; peta datar adalah penyajian visual yang merupakan gambaran datar dari permukaan bumi; transparansi OHP adalah suatu karya grafis yang dibuat di atas sehelai plastik yang tembus pandang kemudian diproyeksikan ke sehelai layar dengan proyektor OHP.

KLASIFIKASI MEDIA PEMBELAJARAN
Ada beberapa cara yang dapat digunakan dalam pengklasifikasian media pembelajaran. Terdapat lima model klasifikasi menurut para ahli, yaitu menurut: (1) Wilbur Schramm, (2) Gagne, (3) Allen, (4) Gerlach dan Ely, (5) Ibrahim dan (6) Haney dan Ulmer.
Menurut Schramm, media digolongkan menjadi media rumit, mahal, dan media sederhana. Schramm juga mengelompokkan media menurut kemampuan daya liputan, yaitu
1. liputan luas dan serentak seperti TV, radio, dan facsimile
2. liputan terbatas pada ruangan, seperti film, video, slide, poster audio tape
3. media untuk belajar individual, seperti buku, modul, program belajar dengan komputer dam telpon.
Menurut Gagne, media diklasifikasi menjadi tujuh kelompok, yaitu benda untuk didemonstrasikan, komunikasi lisan, media cetak, gambar diam, gambar bergerak, film bersuara, dan mesin belajar. Ketujuh kelompok media pembelajaran tersebut dikaitkan dengan kemampuannya memenuhi fungsi menurut hirarki belajar yang dikembangkan, yaitu pelontar stimulus belajar, penarik minat belajar, contoh prilaku belajar, member kondisi eksternal, menuntun cara berpikir, memasukkan alih ilmu, menilai prestasi, dan pemberi umpan balik.
Menurut Allen, terdapat sembilan kelompok media, yaitu: visual diam, film, televisi, obyek tiga dimensi, rekaman, pelajaran terprogram, demonstrasi, buku teks cetak, dan sajian lisan. Di samping mengklasifikasikan, Allen juga mengaitkan antara jenis media pembelajaran dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Allen melihat bahwa, media tertentu memiliki kelebihan untuk tujuan belajar tertentu tetapi lemah untuk tujuan belajar yang lain. Allen mengungkapkan enam tujuan belajar, antara lain: info faktual, pengenalan visual, prinsip dan konsep, prosedur, keterampilan, dan sikap. Setiap jenis media tersebut memiliki perbedaan kemampuan untuk mencapai tujuan belajar; ada tinggi, sedang, dan rendah.
Menurut Gerlach dan Ely, media dikelompokkan berdasarkan ciri-ciri fisiknya atas delapan kelompok, yaitu benda sebenarnya, presentasi verbal, presentasi grafis, gambar diam, gambar bergerak, rekaman suara, pengajaran terprogram, dan simulasi.
Menurut Ibrahim, media dikelompokkan berdasarkan ukuran serta kompleks tidaknya alat dan perlengkapannya atas lima kelompok, yaitu media tanpa proyeksi dua dimensi; media tanpa proyeksi tiga dimensi; media audio; media proyeksi; televisi, video, komputer. Berdasarkan pemahaman atas klasifikasi media pembelajaran tersebut, akan mempermudah para guru atau praktisi lainnya dalam melakukan pemilihan media yang tepat pada waktu merencanakan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu. Pemilihan media yang disesuaikan dengan tujuan, materi, serta kemampuan dan karakteristik pebelajar, akan sangat menunjang efisiensi dan efektivitas proses dan hasil pembelajaran Klasifikasi Media Pembelajaran
Haney dan Ulmer (1981). Ada beberapa cara yang dapat digunakan dalam pengklasifikasian ini. Salah satu cara diantaranya ialah dengan menekankan pada teknik yang dipergunakan dalam pembuatan media tersebut. Sebagai contoh, seperti gambar, fotografi, rekaman audio, dan sebagainya. Ada pula yang dilihat dari cara yang dipergunakan untuk mengirimkan pesan. Contoh, ada penyampaian yang disampaikan melalui siaran televisi dan melalui optik. Berbagai bentuk presentasi media yang kita terima, membuat kita sadar bahwa kita menerima informasi dalam bentuk tertentu. Pesan-pesan tersebut dapat berupa bahan cetakan, bunyi, bahan visual, gerakan, atau kombinasi dari berbagai bentuk informasi ini.
Masih banyak ciri yang membedakan media yang satu dengan yang lain, sehingga tidaklah mudah untuk menyusun klasifikasi tunggal yang mencakup semua jenis media. Faktor lain yang juga mempersulit klasifikasi ini ialah untuk menentukan apa yang termasuk dan apa yang tidak termasuk media. Sebagai contoh, beberapa ahli membedakan antara media komunikasi dan alat bantu komunikasi. Yang menjadi dasar utama dari pembedaan ini ialah apakah suatu sarana komunikasi dapat menyampaikan program secara lengkap atau tidak. Berdasarkan pembedaan ini, film dapat digolongkan sebagai media, karena film dapat menyampaikan pesan yang lengkap selama waktu putarnya. Sedangkan overhead transparansi (OHT) digolongkan sebagai alat bantu saja, karena OHT tidak dapat berdiri sendiri. Hal tersebut hanya dapat digunakan oleh instruktur untuk membantu menerangkan pembelajarannya. Walaupun pendapat ini masuk akal, tetapi di sini kita akan membahas media dalam perspektif yang lebih luas, yaitu semua alat atau bahan yang dapat digunakan untuk kegiatan pembelajaran, sesuai dengan pengertian media pembelajaran sebelumnya (di bagian depan).
Berdasarkan uraian sebelumnya, ternyata bahwa karakteristik media, klasifikasi media, dan pemilihan media merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam penentuan strategi pembelajaran. Banyak ahli, seperti Bretz, Duncan, Briggs, Gagne, Edling, Schramm, dan Kemp, telah melakukan pengelompokan atau membuat taksonomi mengenai media pembelajaran. Dari sekian pengelompokan tersebut, secara garis besar media pembelajaran dapat diklasifikasikan atas:
1. audio : Kaset audio, siaran radio, CD, telepon
2. cetak : buku pelajaran, modul, brosur, leaflet, gambar
3. audio-cetak : kaset audio yang dilengkapi bahan tertulis
4. proyeksi visual diam : Overhead transparansi (OHT), film bingkai (slide)
5. proyeksi audio visual diam : film bingkai slide bersuara
6. visual gerak : film bisu
7. audio visual gerak : film gerak bersuara, Video/VCD, Televisi
8. obyek fisik : Benda nyata, model, spesimen
9. manusia dan lingkungan : guru, pustakawan, laboran
10. komputer : CAI